12 Fakta yang Menyatakan Bahwa Menabung Pangkal Kaya Adalah Mitos

administrator February 15, 2016 0

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” begitulah kira-kira bunyi pepatah lama yang orangtua atau pelajaran Bahasa Indoenesia ajarkan sewaktu kita duduk di bangku SD. Tapi apakah benar pepatah itu masih berlaku?

Dengan berkembangnya dunia ekonomi global, dan pergerakan mikro-makro ekonomi usaha, adalah mustahil kalau kita bisa kaya hanya dengan menabung saja. Atau dengan kata lain, pepatah nenek moyang kita itu sudah sangat tidak berlaku di era global sekarang. Dan kalau kita masih percaya uang kita aman di tabungan, trust me, you will ended up still working tanpa bisa pensiun.

Ada banyak jenis intrumen investasi yang terus dikembangkan dan bertambah belakangan ini. Atau dengan kata lain, manusia jadi semakin pintar melipat-gandakan uangnya dengan membuat uang investasinya bekerja untuk dirinya, tanpa ia harus bekerja extra keras diluar kewajibannya sehai-hari sebagai pegawai atau pengusaha. Atau lebih tepatnya, pemahaman menabung sudah bergeser ke investasi.

Masih belum memulai investasi? Inilah 12 Fakta yang harus kita tahu, dan membuktikan kalau menabung nggak akan membuat kita kaya.

1. Biaya administrasi tabungan kita hanya akan break even dengan bunga bank kalau kita memiliki tabungan senilai Rp. 15.000.000,00
Ada yang pernah menghitung atau memperhatikan biaya administrasi bulanan buku tabungan kita? Salah seorang teman pernah berhitung, tentang korelasi antara bunga bank dan pemotongan biaya administrasi atas tabungannya. Dan menurut beliau, beberapa bank membutuhkan setidaknya Rp. 15.000.000,00 untuk break even saja dengan bunga bank-nya, dan beberapa bank lain malah Rp. 20.000.000,00. Break even di sini artinya bunga yang kita terima setiap bulan bisa menutup biaya administrasinya saja. Jadi kita malah tidak mendapatkan benefit apapun dari bunga bank.

2. Inflasi Kita Lebih Tinggi Daripada Kenaikan Gaji Kita Setiap Tahun
Kalau kita memiliki kenaikan gaji hanya sekitar 6-8% per tahunnya, maka jelas kenaikan gaji akan kalah dengan inflasi. Simple saja, harga bubur ayam semangkuk tahun lalu adalah sekitar Rp. 8.000,00. Tahun ini? Semangkuk bubur ayam harganya Rp. 10.000,00. Kelihatan kecil, dan sepele. Namun harga Rp. 2.000,00 itu sudah sama dengan kenaikan 25% loh.

3. Inflasi yang diumumkan oleh pemerintah tidak sesuai dengan inflasi yang terjadi di lapangan
Pemerintah seringkali mengumumkan kalau inflasi yang terjadi adalah sebesar 1,5% atau 5,7% yoy atau adaah angka-angka statistik lainnya yang sebagian dari kita hanya akan manggut-manggut saja padahal tidak mengerti. Sedikit yang menyadari bahwa harga semakin mahal, atau porsi makanan menjadi semakin kecil. Dan kita memilih untuk mengabaikannya karena rupiah yang naik kita anggak tidak seberapa. Padahal kalau dikumpulkan, bisa lebih dari 10%.

4 Nilai rupiah kita mengalami depresiasi
Sederhana saja, kita tidak bisa membeli barang yang sama dengan harga yang sama seperti tahun lalu. Kecuali mungkin barang-barang second. Namun bicara kebutuhan rumah tangga, maka informan terbaik kita soal kenaikan harga bahan kebutuhan pokok adalah tukang daging, tukang sayur dan tukang ayam di pasar tradisional. Mereka akan dengan senang hati menyebut angka statistik kenaikan yang luar biasa menarik sehingga membuat uang kita seolah mengalami penurunan nilai.

5. Menabung di deposito tidak akan membantu menyimpan uang kita dengan aman dari inflasi.
Saya pernah berhitung: dengan bunga deposito sebesar 7.25% gross atau 6% net, dan dengan tingkat inflasi sebesar 11% per tahun, maka uang yang kita simpan sebesar Rp. 200.000.000,00 hanya akan bisa membeli barang seharga kurang lebih Rp. 80.000.000,00 dalam waktu 20 mendatang. Artinya dalam 20 tahun, nominalnya sih tetap senilai Rp. 200 juta, tapi kita hanya sanggup membeli barang yang saat ini harganya/nilainya Rp. 80 juta.

6. Putting your money in a piggy bank or bank account is NOT an investment
Begitu kira-kira bunyi kata-kata seorang teman yang memang bekerja di dunia keuangan dan investasi. Semua orang-orang terkaya di dunia, mereka nggak menabung. Tapi mereka berinvestasi. Bahkan sebenarnya bentuk investasi sudah dilakukan sejak nenek moyang kita dahulu dengan membeli lahan atau tanah untuk sawah barangkali atau apapun itu, yang penting memiliki penambahan nilai.

Kalau misalnya orang-orang terkaya di dunia tidak mengandalkan tabungan untuk membuat mereka kaya, malah lebih berpegang pada investasi, mengapa kita malah tidak meniru meraka dan kita masih berpikir kalau kita akan kaya dari menabung?

7. Kita tidak akan bisa pensiun hanya dengan mengandalkan tabungan
Biaya hidup kita akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya waktu akibat adanya inflasi. Berapakah uang yang kita tabung per bulannya demi mempersiapkan dana pensiun? Kalaupun kita mampu menabung sedikitnya 50% dari uang tabungan kita hanya untuk persiapan dana pensiun tanpa melalui instrumen investasi, pada saat kita sudah berhenti bekerja, kenaikan harga akibat inflasi tetap ada, dan pastinya uang tabungan kita nggak akan cukup.

Tabungan dan deposito bukanlah instrumen investasi. Lebih ke simpanan. Dan simpanan kita ini tidak akan berkembang, dan tetap akan tergerus oleh inflasi, yang lebih besar dari bunga atau imbal balik yang ditawarkan.

8. Investasi di Reksadana dan Saham bisa mengejar inflasi dan sangat baik untuk investasi jangka panjang
Bicara investasi adalah membeli dengan harga murah dan mengharapkan kenaikan dalam jangka waktu tertentu. Tidak ada investasi yang bisa menghasilkan hasil instan, kecuali judi. Investment takes time. It’s like watching the grass grow.

Reksadana dan saham mampu memberikan return on investment yang sangat menjanjikan, bahkan bisa membalap investasi sehingga bukan mustahil kita bisa memiliki uang sejumlah milyaran rupiah hanya dengan berinvestasi rutin mulai dari sebesar Rp. 250.000,- per bulan dari sekarang selama 10-20 tahun. Jumlah yang masih lebih masuk akal dan terjangkau daripada mendadak kita harus menyiapkan dana besar demi pensiun nyaman 20-30 tahun mendatang misalnya.

9. Tidak ada orang yang terkaya di dunia ini dengan menabung
5 orang terkaya di dunia, sebut saja Bil Gates, Warren Buffett, Bernard Arnault, Amancio Ortega (si pemilik Zara itu loh) atau Carlos Slim, mereka memiliki kekayaan dengan berinvestasi. Bukan dengan menabung.

Kalau misalnya orang-orang terkaya di dunia tidak mengandalkan tabungan untuk membuat mereka kaya, malah lebih berpegang pada investasi, mengapa kita masih berpikir kalau kita akan kaya dari menabung?

10. Ada perkembangan dunia finansial yang lebih baik dari jaman ke jaman
Dahulu mungkin istilah reksadana masih sangat asing apalagi buat orang tua kita. Pasti ada perlawanan dan penolakan karena semata-mata kita nggak paham. Apalagi momok seram tentang saham yang ditambah dengan episode menakutkan,”Jangan! Nanti uangnya hilang!”

Tapi dengan adanya perkembangan tehnologi, akses informasi yang kita butuhkan menjadi lebih mudah kita dapatkan. Belum lagi kampanye dan edukasi tentang reksadana serta saham ada dimana-mana. Bahkan saat ini Bursa Efek Indonesia sedang mengkampanyekan gerakan #YukNabungSaham atau #YukNabungReksadana, semata untuk mendukung masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Informasi yang mudah dan pelatiah dari para ahli juga sudah disediakan di sini.

Jadi kenapa tidak kita juga ikut memulai investasi? Jangan salahkan siapa-siapa ya kalau akhirnya kita cuma bisa mengeluh kurangnya uang terus menerus tapi masih menolak untuk investasi. Kan Anda sendiri yang menolak untuk bisa kaya secara finansial dengan ignorant sendiri.

11. Kalau kita menaruh uang tabungan kita dalam jumlah besar di bank, itu rugi
Iya rugi. Apalagi kalau ternyata kita tidak membutuhkannya dalam jumlah besar. Karena uang kita nggak berkembang. Sementara kalau kita menaruh uang dalam bentuk deposito, selain tetap bunganya kecil, ada pemotogan pajaknya juga atas bunga yang kita terima.

Kalau kita memiliki uang dalam jumlah yang lumayan, kenapa tidak menyimpannya dalam bentuk saham? Ada 2 keungungan yang bisa kita terima yaitu deviden dan capital gain. Bahkan beberapa saham BUMN dapat memberikan deviden sebesar 10% per tahun atau lebih besar dari bunga deposito (dan nggak kena pajak sebesar deposito juga).

12. Hanya kurang dari 1% penduduk di Indonesia yang sudah berinvestasi
Lebih dari 99% penduduk di Indonesia nggak paham dengan yang namanya investasi. Investasi yang ada di benak mereka semua masih berpegang pada lahan, perkebunan atau komoditi, dan cara-cara tradisional lainnya. Sementara untuk mereka yang mau berinvestasi di paper aset, seperti obligasi, reksadana dan saham, masih sangat terbatas dan sedikit.

Kalau kita ingin memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik, investasi ke perusahaan besar bisa jadi jalan keluarnya. Dan dengan membeli saham mereka, dengan harga mulai dari beberapa puluh ribu rupiahnya sekalipun, ibarat kue, kita sudah bisa memiliki sepotong kecil dari perusahan besar seperti Unilever, Indofood, Mitra Adi Perkasa dan lain-lain. Masih banyak perusahaan besar yang nilai sahamnya di bawah Rp. 100.000,00.

Kalau misalnya memang taraf kehidupan yang lebih baik yang kita inginkan, mulailah dengan berinvestasi. Cari tahu, pelajari and do something about it! Karena kehidupan kita tidak akan berubah kalau kita tidak mau berubah. Dan perubahan itu bisa kita mulai dengan berinvestasi dari sekarang.

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin bertanya langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

Terima kasih. Namaste.

foto sumber: kapitalium.com

Leave A Response »