Antara Saham, Reksadana dan Unitlink. Mana Yang Lebih Baik?

administrator January 3, 2017 6

Belakangan dalam beberapa pertemuan dengan teman dan sahabat, saya kerap kali menjelaskan 1 hal yang sama. Pertanyaannya sederhana: antara saham, reksadana dan unitlink, mana sih yang sebenarnya lebih baik?

Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah analogi. Dan contoh yang saya ambil di sini adalah Sayur bayam.

Bayangkan sayur bayam. Ada 3 tempat di mana kita bisa membeli sayur bayam. Yang pertama ke petani langsung, kedua ke tukang sayur di pasar tradisional modern, dan yang ketiga di supermarket kelas atas seperti Ranch Market, Foodhall dan Hero. Lotte juga boleh. Terserah, yang penting maksudnya di sini adalah supermarket.

Pertanyaannya: sayur dimanakah yang lebih baik? Itulah jawabannya: sama saja. Tapi, tergantung kenyamanannya.

kingofwallpapers.com

Membeli saham langsung dengan mempergunakan aplikasi online trading, itu sama saja dengan kita membeli saham pada petani. Kita butuh mencari tahu terlebih dahulu petani mana yang menjual sayur terbaik, perlu keahlian dalam memilih sayur dan keahlian-keahlian lain yang nggak mudah.

Dalam saham, keahlian-keahlian ini disebut Technikal Analist dan Fundamental Analist. Jadi, dalam menyaring 500+ saham, kita tahu secara spesifik caranya bagaimana. Sama saja dengan memilih dari sekian ratus petani yang ada, yang manakah dari para petani tersebut yang menurut kita menjual sayurnya (baca: saham) terbaik berdasarkan analisa dan kemampuan kita sendiri.

Kedua, pasar tradisonal.
Layaknya dalam sebuah pasar tradisional, ada banyak sekali tukang sayur yang berjualan. Dan tukang sayur ini bukan petani. Mereka membeli dari petani untuk di jual kembali bersamaan dengan sayur sayur dari petani lain, yang dikemas dalam bentuk pilihan sayur mereka yang mereka jual hari ini. Jadi dengan kata lain, walau dalam satu pasar, penjual sayur A bisa jadi hanya menjual bumbu dapur saja dan tidak menjual sayur segar, penjual sayur B bisa jadi hanya menjual cabai saja dalam berbagai bentuk dan ukuran, dan bisa jadi penjual sayur C menjual berbagai jenis sayur, tapi tidak menjual wortel.

Belum lagi ada penjual ikan, daging dll dalam satu tempat.

Artinya di sini, penjual sayur berfungsi sebagai Manager Investasi, yang sudah memilihkan instrumen investasi yang mereka jual dalam kemasan tertentu atau pilihan terbatas, yang menurut mereka terbaik sesuai dengan kapabilitas dan kompetensi mereka sebagai Manager investasi. Tinggal bagaimana kita dengan keahlian yang kita miliki, namun hanya sebagai ilmu pengetahuan dasar untuk memilih sayur mana yang ok buat kita konsumsi atau kita beli.

Jadi keahlian yang kita butuhkan di sini hanya memilih Manager investasi yang menurut kita ok (baca penjual sayur) dan memilih sayur yang dijualnya sesuai dengan kebutuhan kita (baca: reksadana).

Bayangkan kalau kita membeli langsung pada petani, bisa jadi kita nggak bisa hanya membeli seikat kecil sayur bayam. Tapi mungkin harus segerobak. Atau berdasarkan jumlah yang disepakati. Namun kalau di tukang sayur, porsi ikatan jauh lebih kecil dan bisa kita tentukan juga seberapa banyak yang kita inginkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Tentunya dengan resiko harga yang lebih mahal sedikit daripada kalau kita membelinya dari petani langsung. Tapi biaya-biaya yang timbul relatif sangat kecil karena sayur (baca reksadana) yang kita inginkan sudah dipilihkan oleh tukang sayur (baca Manager Investasi) sehingga kita nggak perlu serepot itu mencari petani.

pricechopperblog

Ketiga: Asuransi dengan Unitlink.
Tapi untuk bagian ini, saya membahas unitlinknya saja ya. Unitlink adalah produk investasi yang digandengkan dengan asuransi, sehingga kita bisa mendapatkan nilai investasi di dalam perlindungan asuransi yang kita miliki.

Layaknya Ranch Market, Foodhall atau supermarket ekslusif, kita nggak akan berinteraksi dengan penjual sayur. Hanya sayur yang ada di depan mata kitalah yang bisa kita pilih, dan bonusnya kita mendapatkan kenyamanan lebih. Kenyamanannya apa? AC, tempat bagus, kwalitas terbaik, dll. Tapi kita kan nggak tahu beli sayurnya di mana dan harga aslinya berapa dan mereka mengambil keuntungannya berapa.

Jadi, mana yang lebih baik? Beli saham langsung, reksadana atau unitlink?

Jawabannya: semuanya sama. Lha wong sama sama sayur kok (baca saham atau produk investasi lain). Masalahnya di sini adalah kenyamanan. Produk investasi dalam unitlink ada kok yang mengandung saham di dalamnya. Tinggal bagaimana persentasenya dan komposisinya saja kita yang tentukan. Tapi tentunya kenyamanan tersebut akan dibayar dengan hasil imbal balik yang lebih kecil daripada kalau kita menabung di reksadana atau saham.

Sementara untuk reksadana, apakah kita memiliki waktu dan pengetahuan yang cukup serta senang untuk jalan-jalan ke pasar tradisional? Ada skill-nya juga loh untuk memilih reksadana yang tepat dan sesuai dengan portfolio serta kebutuhan keuangan kita.

Begitu juga dengan saham. Kalau kamu nggak punya skill alias kebisaan membaca technikal analis dan fundamental analis, nggak usah deh beli saham. Nanti jantungan. Pahami resiko dan mengertilah kalau fluktuasi saham sangat volatile jadi cocok untuk investasi jangka panjang.

Lebih jauh lagi pemahaman technikal analis dan fundamental analis dibutuhkan agar kamu nggak salah pilih saham sehingga uang kamu malah hilang terus nyalah-nyalahin deh saham rugi. Ada kok yang bisa mendulang profit 25% per bulan dari saham. Bahkan ada loh saham-saham kita yang memberikan profit diatas 1000% dalam setahun terakhir.

Tapi pertanyaannya, do you have what it takes to know all of this? Kalau tidak, mulailah dari yang gampang-gampang saja dulu. Unitlink atau reksadana aja deh. Dan pelajari perlahan, karena jelas, menabung sekarang nggak akan membuat kamu kaya. Menabung di saham, barulah akan membuat kamu jadi milyuner.

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

6 Comments »

  1. Tofan January 4, 2017 at 1:50 PM - Reply

    Analogi yg menarik nan gampang dipahami, hehehe. Ga pernah kepikiran seperti ini jelasinnya. Nice post mba 👍

    • administrator January 6, 2017 at 12:15 PM - Reply

      Thank you Tofan.. kita bikin simple aja kan ya ? 🙂

  2. lies January 16, 2017 at 10:00 AM - Reply

    Suka sama analoginya..

    • administrator January 16, 2017 at 6:17 PM - Reply

      Hai Mba Lies, apa kabar? Kita buat sederhana aja kan ya Mba? 🙂

  3. enny January 20, 2017 at 6:47 AM - Reply

    postingan yg selalu sy tunggu, terima kasih sudah berbagi mba fioney 🙂

    • administrator January 22, 2017 at 10:18 PM - Reply

      Hi Mba Enny apa kabar? Terima kasih Mba, semoga bermanfaat ya.

Leave A Response »

Click here to cancel reply.