Beberapa Pertimbangan Sebelum Memilih Properti

administrator July 1, 2014 0

Saah satu instrumen investasi non liquid yang paling menguntungkan bagi saya adalah properti. Karena selain memiliki nilai tambah setiap tahunnya, kita sendiri dapat menempatinya, menjadikannya bagian dari passive income, dan tetap saja nilainya terus naik.

Apakah benar properti selalu naik?

Tidak.

Kalau kita berjalan di sepanjang jalan JORR II, antara Pondok Indah – Bintaro – BSD, kita dapat melihat beberapa properti menjadi properti hantu, dimana tidak ada yang menempati, tidak ada yang membeli, dan pada akhirnya menjadi properti silent hill yang terbengkalai.

Sementara agak jauh sedikit mega properti seperti Alam Sutera, BSD City, Gading Serpong dan lain-lain, mampu memiliki kenaikan nilai properti sampai 30% per tahun.

Kenapa? Infrastuktur dan pengembang yang baik.

Jadi agar kita tidak terjebak dalam iming-iming harga murah properti, kemudian malah memiliki properti Silent Hill, berikut beberapa tips yang mungkin bisa kita jadikan pertimbangan.

1. Pengembangnya siapa?
Banyak developer nakal yang ngebuat property padahal surat ijin dll kurang lengkap. Dan kadang karena kurang berpengalaman yang ada propertinya tidak selesai atau adaaa aja masalah. Coba dilihat bagaimanakah referensi dari pengembang ini, apakah pernah membangun di tempat lain? Dan dilihat juga Bank pemberi KPR-nya Bank apa? Apakah bank besar dan ada beberapa bank atau cuma satu saja? Karena hal ini pengaruh.

2. Cek lokasi
Sebaiknya lokasi tidak lebih jauh 40 km dari rumah tempat tinggal kita yang sekarang (tempat tinggal utama). Karena kalau lebih, kita bakal males ngunjungin, mengontrol dll. Kecuali kita memang menginginkan rumah yang baru ini sebagai tempat tinggal utama kita.

Kadang kita pribadi juga membutuhkan gateway atau tempat istirahat khusus dari hiruk pikuk kantor. Jadi bisa saja rumah kita justru adalah tempat sembunyi yang memang jauh dari kebisingan.

3. Lihat juga bagaimana fasilitasnya
Apakah kendaraan umum mudah, dekat rumah sakit atau sekolahan, ada tempat atau taman bermain, fasilitas olah raga atau jogging track, dekat pasar dll., karena kalau iya, artinya ada nilai startegisnya yang bisa membuat harga rumah naiknya lumayan tinggi.

Dan sesederhana, kemana mana jadi mudah.

Saya pribadi akan pindah ke tempat atau perumahan yang memiliki sekolah yang bagus, walau dengan resiko jauh dari kantor. Terbayang oleh saya kasihan anak-anak kalau sudah harus keburu letih di jalan hanya karena menempuh jarak ke sekolah yang lumayan.

Dan sebagai pemerhati Busway, senang sekali saya kalau di dekat rumah ada feeder Busway yang lewat. Karena jelas saya malah bisa berpacu melawan macet plus kenyamanan extra karena selain ada pengemudinya, tujuan akhirnya enak, ada yang jemput di halte busway dekat rumah.

4. Lihat properti di sekelilingnya
Ada atau tidakkah properti atau cluster cluster lain di sekelilingnya, dan tanyakan juga kisaran harganya berpa, kenaikan tiap tahunnya berapa, dll. Karena kalau dia terisolir sendiri, nilai jualnya kurang bagus.

Selain kita dapat melihat perbandingan harga, di sini juga kita dapat menilai dan melihat bagaimana lingkungannya, bagaimana orang-orang sekitar yang bertempat di sana, dan lain-lain.

You can be the judge from this.

Karena bagaimanapun juga, tempat tinggal dan lingkungan yang kita berikan untuk anak-anak kita, akan berpengaruh pada pola pikir dan perkembangan pribadi masing-masing anak.

“It takes a village to raise a child” buku karya Hillary Clinton dapat menjadi referensi yang baik dalam memikirkan pemilihan property kita. Dan iya, beliau adalah istrinya Bill Clinton, mantan presiden A.S dan sekarang mantan Secretary U.S.

5. Sesuaikah dengan kemampuan kita?
Nilai KPR yang akan disetujui adalah sebesar 30% – 40% dari gaji atau take home pay. Dan iya, gaji suami-istri bisa digabungkan di sini. Namun perlu diingat apakah dengan adanya cicilan KPR ini kita justru malah menjadi hidup pas-pasan atau malah kurang karena memaksakan memiliki properti? Pikirkanlah dahulu baik-baik.

6. Apakah properti ini untuk dijadikan rumah pertama atau rumah kedua?
Apa bedanya? Karena kita bisa menjadikan rumah atau properti ini sebagai income passive atau properti yang membiayai dirinya sendiri. Uang rental atau sewa yang kita dapat, bisa kita pergunakan untuk membayar cicilan rumah itu sendiri. Dan tentunya ini dengan pertimbangan yang matang.

Do’s and Don’t : staregi marketing properti sekarang luar biasa kreatif. Jangan terjebak dalam promo yang ‘katanya’ habis terjual, sold out, dll hanya dalam waktu 6 bulan. Yang ada kita malah kalap membeli karena ikut euforia buatan tenaga marketing.

Be wise when it comes to choosing your house. Yang diutamakan adalah kenyamanan di sini, tapi kalau memang mengejar harga investasi yah silahkan saja.

Manfaatkan fasilitas cicilan down payment. Beberapa pengembang properti akan menawarkan fasilitas cicilan down payment yang harus 30% ini menjadi 6 kali bayar, 12 kali pembayaran, bahkan ada yang 24 kali pembayaran. Bahkan ada yang memberikan diskon persentase cicilan dan lain-lain, apapun itu pelajari sebaik-baiknya.

Kita tidak mau membeli kucing dalam karung bukan?

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

Thank you for reading 🙂

Leave A Response »