Belajar Perencanaan Keuangan dari Seorang Tukang Bubur Ayam

administrator January 31, 2013 10

Didekat rumah Ibu saya, kira-kira dipenghujung jalan sebelum masuk kompleks, ada seorang Bapak penjual bubur ayam yang suka mangkal di jam-jam tertentu.

Biasanya Mama saya suka membelikan saya dan adik-adik saya bubur ayam itu sebagai sarapan pagi, dengan penuh bangga karena antriannya yang panjang dan bisa makan waktu berjam-jam, hanya untuk menikmati semangkuk bubur ayam dengan kuah kuning itu. And it’s always worth it.

Belakangan saya kemudian mempelajari, kalau saya pulang agak malam, si Bapak penjual bubur ayam masih suka mangkal di tempat yang sama. It makes me wonder, apakah si Bapak ini berjualan nonstop sejak pagi sampai malam?

Banyak sekali kemudian pertanyaan yang berputar di pikiran saya. Bagaimana efisiensi waktunya? Berapa banyak bubur ayam yang dijualnya? Apa yang ia lakukan sampai-sampai kok orang rela antri berjam-jam hanya demi semangkuk bubur ayam? Apa rahasianya untuk staminanya yang begitu luar biasa? Berapa income sebenarnya yang ia peroleh dari penjualan buburnya dan apa yang kemudian ia lakukan dengan uang hasilnya tersebut sebagai usaha investasinya?

Antara lapar dan kemudian ingin tahu, suatu malam saya sengaja memutuskan untuk makan di tempat si Bapak penjual bubur ayam. Kebetulan malam itu sehabis hujan, jadi suasana dingin dengan angin yang masih suka bertiup semilir membuat bayangan semangkuk bubur ayam panas menjadi sangat didambakan.

Alhamdulillah ga antri! Namun ada beberapa pembeli yang juga sedang menikmati bubur ayam sambil bercakap-cakap ringan dengan si Bapak.

“Ga pakai kacang, ga pakai kecap manis, dan kecap asin-nya ditambahin sedikit. Begitu yah Neng?” kata si Bapak meminta verfikasi.

Saya terkejut,”Kok Bapak tahu?” si Bapak secara persis bisa menggambarkan porsi bubur ke sukaan saya.

“Iya, saya kan sering lihat Neng sama Pak Acan (ia menyebut nama supir ibu saya) dan Neng suka dianter sama Mas-nya yang besar itu (adik saya) naik mobil *****,” kata si Bapak lagi sambil menyebut secara spesifik merk mobil adik saya.

Wow.. Random observasi yang akurat.

Sambil menikmati bubur ayam hangat dengan rasa yang extra lezat, saya memulai wawancara saya dengan si Bapak.

Dari ceritanya saya tahu kalau ia sudah berjualan bubur sejak tahun 1986 di daerah Prumpung, kemudian baru pindah ke daerah sini sekitar tahun 1996. Amaze juga melihat konsistensinya. Namun cerita si Pak Dhe berikutnya yang membuat saya ternganga.

“Bapak jualannya pagi sampai malam?” tanya saya.

“Oh engga Neng. Saya pagi jualan dari jam 6 pagi, sampai jam 9 biasanya sudah habis, terus saya pulang. Nah jam 6-7 sore baru saya balik lagi ke sini. Kalo ga yah bisa kecapaian saya,” ceritanya penuh semangat.

“Itu semuanya mulai dari sate, sambal, ayam dan lain-lain, Bapak sendiri yang bikin?” tanya saya lagi.

“Oh engga Neng. Kita kan hidup sebaiknya berbagi rezeki ke orang lain. Kerupuk, cakwe, sambal dan sate, itu ada yang bikinin buat saya. Saya nampung. Jadi kalau saya butuh, saya tinggal telepon, dan orang-orang rekanan saya itu terus anterin ke rumah. Saya cuma sedia ayam, bumbu kuning dan yang lain-lain,” ceritanya.

Saya tersenyum. Hebat si Pak Dhe. Pemikiran efisiensi waktunya luar biasa. Tidak hanya dia melakukan diversifikasi pekerjaan, namun ia juga memberi manfaat lapangan pekerjaan ke orang lain. Tidak sampai di situ, cerita Pak Dhe tentang diversifikasi menjadi semakin menarik.

“Tapi kan Pak. Harga bubur Rp. 7000,- apa ga kemurahan Pak? Di Jakarta mana ada harga bubur segitu? Paling murah juga Rp. 8.000,00 bahkan kebanyakan Rp. 10.000,- Apa ga sebaiknya Bapak naikin harga,” ceritanya insting hitung-hitungan saya keluar dan harga 7000 perak secara financial planning terlalu murah.

“Iya, saya tahu kok Neng. Di gang ujung juga harga bubur ayamnya Rp. 8.000,00. Tapi kalau saya mau menaikkan harga, saya harus punya kesepakatan dulu dengan tukang bubur kacang hijau, ketoprak dan lontong sayur, supaya kita bisa naikin sama-sama. Lagipula dengan harga bubur 7 ribu saya sudah sangat cukup kok. Saya sudah bisa nyekolahin anak saya ke UMJ, dan cukuplah pokoknya,” ceritanya.

“Bapak ga investasi ke tempat lain?” saya benar-benar tergelitik untuk bertanya.

“Wah kalau saya simpan uang di bank mah, saya malah rugi. Meski saya cuma lulusan SD kan saya banyak baca Neng, jadi saya mengerti kalau kita simpan uang di bank, hanya bakal kemakan inflasi. Jadi keuntungan jual bubur saya belikan tanah dan saya bikin kos-kosan. Nah kos-kosan saya sudah…. “

Untuk 15 menit ke depan, si Pak Dhe bercerita tentang konsepnya investasi dan diversifikasi melalui aset dengan modal utama dari menjual bubur, sampai memiliki kos-kosan, dan bahkan si Pak Dhe punya usaha per-ojekan yang 2 motornya akan lunas dalam 6 bulan ke depan.

Saya terpana. Kalah saya, dengan bangga.

Si Pak Dhe dengan keterbatasan dan kesederhanannya mampu mendelegasikan kerja ke beberapa orang sehingga ia dapat memberi kemakmuran hanya dari berjualan bubur. Belum lagi diversifikasi aset dan income dari berbagai tempat, dari tanah yang ia miliki di kampung, dia bisa memiliki tukang tanam dan menyewakan tanahnya untuk ditanami padi, memiliki kos-kosan, dan usaha per-ojekan.

Berapa banyak orang yang kemudian ia angkat dalam kemakmuran bersama, jelas si Pak Dhe tidak memikirkan dirinya sendiri, malah cenderung memilikirkan kebutuhan dan kepentingan orang lain. Terlihat dalam ceritanya bagaimana Pak Dhe enggan menaikkan harga karena pertimbangan pelanggan lainnya kasian, kadang hanya mampu membayar 2000-5000..

I’m speechless campur haru. Kalau seorang Pak Dhe yang hanya berjualan bubur dengan gerobak tak lebih besar dari 1,2 m x 0,6 m saja bisa.. Apa yang menghalangi kita untuk bisa seperti Pak Dhe? Atau malah lebih?

Tips memiliki repeat customer ala Pak Dhe

1. Know your customer : senyum, sapa dan hapal.. Itu kunci sukses si Bapak, yang walaupun tidak tahu nama saya, tapi ia memiliki ingatan yang luar biasa tentang saya dan kebiasaan saya. Otomatis ini menciptakan rasa nyaman.

2. Selaraskan harga : Pak Dhe tahu persis harga semangkuk buburnya murah, tapi ia mampu mengendalikan pasar dengan membuat kesepakatan antar pedagang lontong sayur, bubur kacang hijau dan ketoprak yang juga mangkal di tempat yang sama, agar harganya sama. Kenaikan harga disepakati bersama agar terjadi persaingan sehat antar jenis jualan, bukan monopoli.

3. Diversifikasi : Pak Dhe tidak memonopoli jualannya malah mendelegasikan pengadaan sambal, kerupuk, sate dan lain-lain dengan  kepada orang lain. Otomatis ia menciptakan lapangan kerja bagi orang lain sehingga jualannya juga menyangkut banyak orang dan untuk kepentingan bersama.

Pak Dhe tahu, dari mana ia bisa mendapatkan the best sate, the best sambal, the best cakwe, dan ia mengumpulkan yang the best- the bestnya itu, dan ia juga tetap menjaga kepentingan mereka. Sehingga productnya menjadi yang the best, karena ditunang oleh produk-produk the best. Jadi jelas, nilai tambah akhir justru di pegang Pak Dhe. Bayangkan kalau bubur ayam Pak Dhe ‘dirusak’ oleh bawang goreng yang pahit.. Yaahhh…

Mungkin saja Pak Dhe ‘hanya’ penjual bubur ayam, namun jelas Pak Dhe memiliki sebuah pola pokir pengusaha yang besar :)

 

10 Comments »

  1. astri kunto February 1, 2013 at 3:32 AM - Reply

    ah bapaakk… pandai sekali dirimu :’)
    emang juragan kosan itu cita2 yang paling bener deh *toss*

    • administrator February 2, 2013 at 3:55 AM - Reply

      Iyah Mba.. aku aja sampai terharu dan salut sama si Bapak ini. Tingkat pendidikan dan pekerjaan bukan alasan kok buat kita untuk maju. Si Bapak ini seru bisa diajak diskusi soal kasus Century, dan hebat pengetahuan dia soal keuangan. Tehnis kalau si bapak ini bisa, kenapa kita engga. Kadang kita terlalu sering mikir yang sulit padahal dari si bapak, cara yang sederhana ini muncul dengan hasilyang ok banget!

  2. ApipCinta March 27, 2013 at 3:06 PM - Reply

    Kereeeeeeennnnn……

    • administrator March 30, 2013 at 2:48 AM - Reply

      Terima kasih Mas Apip.. semoga bermanfaat.. ^_^

  3. AB December 3, 2013 at 6:25 AM - Reply

    terima kasih rubriknya mba saya lg coba 2 untuk berbisnis bubur ayam, untuk saat ini saya sedang mensurvey beberapa tukang bubur, mudah2an segera terealisasikan

    • administrator December 7, 2013 at 10:57 PM - Reply

      Amien Mas..
      Satu hal yang mungkin perlu saya tekankan, jangan takut dan ragu untuk bekerja sama dengan orang lain. Semakin banyak kita bekerja sama dengan orang, semakin banyak doa untuk kesejahteraan bersama.

      Sukses selalu saya doakan. Kalau memang tempat jualan buburnya sudah terealisasi, info info ya :)

  4. deden May 1, 2014 at 4:03 PM - Reply

    soal kerja sama dengan yg bikin kerupuk, cakwe, ini beneran jadi sumber inspirasi saya. baru aja mikir-mikir, kalo mau bisnis bubur ayam saya pikir yg paling repot adalah bikin cakwenya. ternyata solusinya tinggal cari tukang cakwe aja ya, ntar dia diajadiin supplier cakwenya… simpel dan cerdas! :) thanks for sharing yaa..

    • administrator May 5, 2014 at 6:09 PM - Reply

      Senang kalau bermanfaat. Sukses selalu Pak Deden ^_^

  5. zulhaq May 2, 2014 at 1:09 PM - Reply

    sungguh pak dhe yang luar biasa, mengagumkan sekaligus mengharukan. sangat menginspirasi!

    • administrator May 5, 2014 at 6:11 PM - Reply

      Pak Dhe mengajarkan kita untuk bekerja sama dan memperkaya banyak orang dengan caranya yang sederhana. Saya tunggu Pak Zulhaq kisah sukses dan inspirasinya ya :)

Leave A Response »


7 − six =