Bicara uang dengan pasangan, apa saja yang harus diperhatikan?

yangpunya November 9, 2018 0

Meski sudah menikah, tidak banyak pasangan yang benar-benar mau terbuka kalau sudah bicara tentang uang. Padahal keterbukaan dalam hal financial, juga bisa menjadi kunci keharmonisan dalam rumah tangga.

Apalagi untuk pasangan yang baru menikah.

Agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam urusan dapur, dan juga hal-hal lain yang berhubungan dengan urusan keuangan, sebaiknya perhatikan 7 hal ini sebagai bahan pertimbangan pentingnya untuk bicara uang dengan pasangan.

1. Rumah tangga yang berhasil mencapai tujuan keuangannya adalah rumah tangga yang menggabungkan penghasilan suami dan istri

Logikanya adalah apabila uang dari penghasilan tersebut digabung, maka akan semakin banyak uang yang bisa dikelola. Pengambilan keputusan untuk berinvestasi, atau berutang, atau dipergunakan untuk apa uang tersebut, akan menjadi lebih terjangkau dan lebih cepat terpenuhi, karena masing-masing pasangan sudah mengetahui dan memiliki tujuan keuangan yang sama.

2. Investasi menjadi lebih optimal

Pengambilan keputusan untuk berinvestasi, atau berutang, atau dipergunakan untuk apa uang tersebut, akan menjadi lebih optimal, karena baik suami maupun istri sudah mengetahui secara pasti peruntukan uang yang mereka miliki bersama. Baik untuk biaya pendidikan anak misalnya atau persiapan dana pensiun, kesemuanya sudah terencana dengan lebih baik dan optimal.

3. Keluar masuk uang menjadi satu pintu

Dengan menentukan siapa yang menjadi manager keuangan, baik suami atau istri, akan tercipta kerjasama yang baik dalam hal pembayaran tagihan, sehingga satu sama lain tidak harus bertanya-tanya tagihan apakah yang belum atau sudah dibayar, karena ada yang mencatat dan memberikan laporan

Akan tercipta rasa kenyamanan di sini, karena masing-masing pasangan sudah tahu bagaimana perannya dan kewajiban pembayaran untuk suatu kebutuhan sudah terpenuhi.

4. Bisa mengetahui apakah asset dan utang yang dimiliki bertambah atau berkurang.

Dengan adanya laporan keuangan, maka seharusnya pasangan suami istri akan menjadi lebih bisa mengetahui asset apa saja yang bertambah dan utang mana saja yang berkurang. Dengan demikian pergerakan keuangan pasangan menjadi terukur, sehingga Anda bisa melakukan monitor, apakah ada asset yang bisa ditambah, atau utang yang bisa dibayar, dan investasi mana saja yang sebaiknya terus dijalankan.

5. Adanya perjanjian pisah harta atau tidak

Dari awal pernikahan sebaiknya sudah ditentukan apakah ada penjanjian pisah harta atau tidak. Atau siapakah yang namanya akan dipergunakan dalam hal akte atau surat-surat yang berhubungan dengan kepemilikan asset. Hal ini diperlukan untuk melindungi istri atau pasangan dari kemungkinan pembayaran utang yang berhubungan dengan bisnis atau pekerjaan pasangan.

Agar asset yang dimiliki tidak diganggu gugat apabila ada masalah dengan utang yang timbul akibat usaha atau pinjaman. Karena setelah tanggal pernikahan, semua harta menjadi milik bersama. Termasuk utang, menjadi utang milik bersama. dan tentunya agar asset tidak hilang karena utang yang sebenarnya bukan kewajiban, maka sebaiknya pertimbangkanlah perjanjian pisah harta ini.

6. Tentukan bersama mengenai pos pengeluaran non keluarga

Keluarga inti yang Anda miliki adalah suami istri dan anak. Namun tidak jarang ada kewajiban atau kebutuhan mendadak yang membuat seseorang untuk membantu keluarganya. Misal orangtuanya, adiknya, atau keluarga jauh yang mendadak membutuhkan bantuan financial.

Tentukan dari awal kalau misalnya terjadi hal-hal seperti ini, apakah pengeluaran yang dilakukan berasal dari keuangan bersama atau masing-masing. Kala salah satu keluarga ternyata seringkali mendapatkan bantuan subsidi financial, sementara keluarga pasangan lainnya tidak, tentu hal ini akan bisa menimbulkan perdebatan.

7. Masalah keuangan yang timbul dalam keluarga adalah karena ketidakpercayaan

Uang memang selalu menjadi masalah yang sensitive, oleh sebab itu perlu laporan dan trasnparansi mengenai pengeluaran-pengeluaran yang terjadi. Namun, perlu juga dibuat jatah khusus untuk suami dan jatah khusus untuk istri yang jumlahnya seimbang, sehingga masing-masing bisa menjalankan hobby masing-masing, tanpa mengganggu pengeluaran rutin bersama.

Kalau suami ternyata memutuskan untuk tidak memberikan semua penghasilan kepada istrinya, ini adalah hal yang diperbolehkan asal ada azas keadilan. Penghasilan istri mungkin memang lebih besar dari suami atau penghasilan suami lebih besar dari istri namun kesepakatan bersama juga penting. Kalau istri mulai merasa keberatan karena bagiannya terlalu besar dipergunakan untuk pengeluaran rumah tangga sementara sebenarnya suami lebih mampu, maka hal inilah yang bisa menimbulkan percekcokan.

Leave A Response »