Comfort Zone

administrator February 16, 2015 2

Kalau bicara tentang comfort zone, langsung kebayang sama saya bantal. Ada bantal di rumah, favorit Farhan. Aurora ga ngeh, Kakaknya selaluuuu pakai bantal itu kalau lagi main-main di kamar saya. Dan pasti si kakak ketiduran.

Suatu hari Farhan bertanya sama saya,”Mah kenapa sih bantal yang ini enak banget. Aan kalau nempel sedikit kepalanya di sini langsung tidur.”

Saya menjawab,”Itu bantal bulu angsa, An.”

Hihihihi.. tapi saya kali ini ga mau bercerita tentang si bantal bulu angsa. Layaknya comfort zone, adalah tempat nyaman kita sehingga kita ‘males gerak’ karena kenyamanan yang tercipta, ya nyaman.

Comfort Zone yang saya bicarakan kali ini adalah zona nyaman yang justru ternyata menghambat cita-cita. Please be honest, kita pasti termasuk yang lupa sama cita-cita masa kecil kita dulu, waktu kita kelas satu SD dan ditanya: cita-citanya apa?

Ada yang bilang mau jadi guru, pilot, dokter, or in my case, kata Mama saya dulu kalau ditanya mau jadi apa, saya jawabnya mau jadi orang kaya.. zzzzzz…. #abaikan

So what happen dengan cita-cita mulia kita? Apakah kita masih mau jadi guru. Some of us.. iya. Ada yang dengan tulus mau ngajar sampai ke pelosok-pelosok daerah, tapi mungkin bukan karena cita-cita. Ada yang karena terpaksa, ada yang menjalankan karena itu pilihannya. Bukan cita-cita.

Apa kita masih beneran bisa menjadi pilot atau dokter? Atau kita justru terpapar tanpa sengaja (atau sengaja) oleh cita-cita dan keinginan orang tua?

Dalam survei yang saya lupa mbaca di mana, bilang kalau 76% penduduk tidak bahagia dengan pekerjaannya. But they choose to do their job anyway, karena.. comfort zone. Ada gaji, ada income rutin, yang pokoknya cukuplah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dan ini adalah golongan orang yang beruntung. Karena, banyak kok entrepreuner atau ‘pegawai lepas’ atau mereka yang bekerja atas dasar komisi yang sangat mendambakan gaji tetap atau income tetap supaya setiap bulan ga deg-degan ada income atau ga nih sekarang? Gimana mesti bayar-bayar tagihan?

Jadi ya.. dengan keterjebakan kita terhadap rutinitas penghasil income, kita mengubur cita-cita asli kita dan pasrah sama reality check yang ada.

Sad but true.

Hanya sedikit dari kita yang mampu menjalani impian dan cita-cita masa kecilnya.
Tapi bukan berarti semuanya sudah terlambat karena kita tetap punya pilihan. Dan hanya terlambat kalau kita tidak menyediakan waktu untuk itu, dan tentunya hanya akan terlambat kalau kita sudah meninggal.

Saya akan meng-quote sebuah cuplikan percakapan antara Santiago, dengan pemilik toko Crystal dari buku The Alchemist karangan Paulo Coelho. Buku ini buku favorit saya yang dengan bangganya ternyata juga jadi buku favorit Farhan.

Suatu hari Santiago bertanya pada pemilik toko crystal tentang cita-citanya apa. Pemilik toko kristal menjawab kalau sebenarnya ia ingin menunaikan ibadah haji di Mekkah, makanya ia membuka toko kristal ini dengan harapan ketika uangnya sudah cukup ia dapat pergi ke Mekkah.

Tapi ternyata ia tidak pernah pergi.

“Kenapa?” Tanya Santiago.

“Sebab justru impian hendak pergi ke Mekkah-lah yang membuatku bertahan hidup. Impian itulah yang membantuku menjalani hari-hariku yang selalu sama ini,.. Aku takut kalau impianku jadi kenyataan, aku tidak punya alasan lagi untuk hidup.”
“Aku cuma ingin bermimpi tentang Mekkah. Aku takut semuanya mengecewakan, jadi aku memilih mengangan-angankannya saja.”

Dueeennnggg…. Berapa banyak dari kita yang sebenarnya justru takut.. what if.. cita-cita kita jadi kenyataan? Dan justru malah mengabaikan what we could have been?

Imagine this, 20-25 tahun mendatang.. close your eyes, and say “I’m glad I did that.”
What will you do so you can be glad doing it now, for something you can be grateful in 20-25 years ahead?

My greatest achievement.. dulu pengeeenn banget menguasai salah satu kegiatan olah raga. Satu aja. Ga usah muluk-muluk. Apapun, yang gampang kalo perlu.

Dengan menanggalkan alesan usia udah 35+ , rasa males tinggalkan di tempat tidur, I gave no excuse to myself, I start running. Lari kan gampang dong. Siapa juga bisa lari kan?

Dari 400 meter, ke 2 km, ke 5 km, ke 10 km, dan mentok di 21,195 km. Atau half-marathon. Jangan salah. Saya bukan pelari kencang. Bukan pelari heubat, bukan pelari yang gimanaaaaa gitu. Ga. Tapi saya pernah lari half-marathon 3 kali seumur hidup saya.

Rewardnya: banyak! Teman baru, hidup sehat, makanan juga milih yang sehat, dll.. seabrek.

Dan yang lebih seneng lagi waktu Farhan bilang,”Mah kok bisa sih lari 21,195 km? What were you thinking? Itu kan jauh, Ma. Jaaauuuuuuhhhhh.. Tapi Aan mau seperti Mama. Aan mau lari pagi ya sama Mama. Itu bagaimana caranya sih Ma? Aan lari 400 meter aja udah ngos-ngosan”

Well, walau Farhan selalu dikalahkan oleh si bantal bulu angsa sehingga ga pernah kesampaian sampai tulisan ini saya muat untuk lari bareng sama saya, tapi saya bangga. At lease apa yang saya lakukan untuk keluar dari comfort zone, ada artinya buat anak saya.

Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kita bisa menginspirasi atau memberikan impact pada orang-orang di sekitar kita dengan kita sendiri yang mulai keluar dari comfort zone kita.

So get up, get out, reach your dream! You owe it to yourself.

Kalau misalnya kendalanya adalah uang, mulailah berinvestasi. Investasi di pasar modal itu sangat sangat menggiurkan loh. Orang-orang seperti Warren Buffet yang terkaya no 3 di dunia sekarang, cuma beli saham terus lupain aja. Ga trading.

1459260_10201063997154225_2007819905_nAda juga reksadana, yang kalo kita investasi 250 ribu aja, per bulan, selama 20 tahun, kita bisa mengantungi uang sedikitnya 8 milyar loohhh.. Gimana kalu sejuta? Bisa kan nabung sejuta sebulan? Kalau ke mall bisa spend segitu, kenapa ga investasi buat cita-cita masa kecil kita yang terlupakan?

Start investing now, for your own childhood dreams. You’ll never know what you can do for yourself, and your happiness.

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

2 Comments »

  1. lies February 19, 2015 at 7:27 AM - Reply

    lucu sepatunya… tapi seperti biasa artikelnya keren…

    • administrator February 19, 2015 at 10:27 PM - Reply

      Hihihi.. terima kasih Mba Lies.
      Itu Asics Kayano Gel 19, hadiah oleh-oleh dari orang tersayang.. 🙂
      Suporter saya yang paling setia kalo saya lari.. hahahahaha..

Leave A Response »