Ekonomi Indonesia Tidak Bisa Tumbuh Pesat – WSJ Indonesia

administrator April 4, 2013 2

Pada tgl 18 Maret 2013, dari website Wall Street Journal Indonesia, mata saya langsung menangkap judul menarik Ekonomi Indonesia Tidak Bisa Tumbuh Pesat . Wow.. benarkah?

Lebih lanjut saya kemudian membaca, bahwa Bank Dunia memberikan laporan yang bertajuk Indonesia Economic Quarterly, menyebutkan bahwa adanya sejumlah potensi sumber risiko yang mengancam proyeksi ekonomi Indonesia–mendinginnya investasi, melebarnya defisit transaksi berjalan, beban subsidi energi, serta melambannya angka pengurangan kemiskinan. Ouch..!

Ditambah lagi dengan statement “Risiko terbesar pertumbuhan dalam jangka pendek bisa datang dari sektor investasi domestik, yang mendorong terjadinya dua perlima pertumbuhan pada tahun 2012,” demikian bunyi laporan. Dan salah satu quote-nya yang menarik bagi saya adalah: Menurut para ekonom, tak menentunya outlook pertumbuhan ekonomi global telah memperlambat pertumbuhan investasi di Indonesia, khususnya pada sektor-sektor yang berorientasi ekspor.

Topik ini menjadi pembicaraan antar saya dengan teman dekat saya, yang kebetulan memang berkecimpung di dunia ekonomi. Jelas ia tidak setuju, dan pernyataannya dialah yang kemudian membuat saya tersenyum.

Menurutnya, kalau Indonesia itu mengembargo dirinya sendiri, menutup diri dari ekspor dan impor, Indonesia masih bisa kok menghidupi dirinya sendiri. Ketika masih dalam masa pemerintahan terdahulu, banyak sekali mahasiswa dari Bangkok, Thailand dan Vietnam yang justru berguru dan belajar di IPB. Dan semua ilmu terbaik serta terbaru semuanya dari IPB. Mulai dari pengembangan varietas unggul, pemilihan bibit yang baik, dan lain-lain. Ironisnya, justru ilmu tersebut dikembangkan dan dijadikan komoditas ekspor balik ke Indonesia, yang kemudian menjadi bintang dan malah mengalahkan produk kita sendiri yang sebenarnya, bisa jauh lebih baik.

Mengapa kemudian terjadi impor bahan-bahan kebutuhan pokok, yang seyogyanya padahal dulu kita mampu ber-swasembada pangan?

Ternyata menurut teman dekat saya, inilah yang terjadi,”Dahulu, komoditi pertanian kita hanya membolehkan jatah impor itu sebesar 20%, sehingga 80% pertanian kita dikuasai oleh petani Indonesia sendiri. Apa yang terjadi? Ternyata barang impor yang masuk mencapai 40%, sehingga ada 120% kebutuhan akan hasil pertanian tersebut yang beredar. Akibatnya, barang terlalu banyak, harga jatuh. Akibat dari harga jatuh, banyak petani-petani kecil gulung tikar karena cost yang mereka keluarkan tetap, sementara profit menurun. Dan hal itu terus menerus terjadi sehingga akhirnya kita justru memiliki ketergantungan pada hasil impor, bukannya malah memperkuat kemampuan petani-petani kita sendiri.”

Selanjutnya teman dekat saya bercerta tentang opininya yang sangat menarik dan lain-lain tentang swasembada pangan dan UKM. Teringat sebuah pembicaraan random dengan Pak Sandiaga Uno waktu otu yang berkata,”Indonesia ini sebenarnya perekonomiannya 40% ditopang oleh UKM loh.”

Dalam pemikiran saya selanjutnya, saya cuma bisa membatin. Apa sih yang sebenarnya dibutuhkan oleh negara kita ini untuk bisa menjadi emerald dan ruby katulistiwa seperti dahulu, yang tidak hanya berpegang pada kecantikan Indonesia itu sendiri dari ragam budaya yang alamnya yang luar biasa, namun juga sebagai negara swasembada pangan dengan tingkat kemakmuran tinggi?

Itu semuanya posible , kalau… ( I better shout my mouth on this one.)

Kalau kita bisa memulai dengan berintrospeksi diri dan mulai bertanya, apa yang bisa saya lakukan untuk negara saya dan bukan hanya bisa menuding ini itu salah.. Hei… What have you done for your country?

Sayangnya juga imaji petani dan perkebunan, itu sangat tidak keren, sehingga banyak dari pemuda bangsa kita yang justru merasa gengsi dan segan untuk menjadi seorang petani atau perkebunan. Padahal Gudang garam dan Sampoerna adalah suatu bentuk pertanian dan perkebunan yang luar biasa sukses sehingga mereka sendiri memulai bisnis agro-nya. Sayang hal ini malah gagal dilihat dan gagal dipahami. Dan mereka adalah taipan-taipan terkaya diIndonesia.. Go figures..

Being angry and disappointed is easy..but coming out with a result, is amazing. When we are focusing on the problem, we won’t get what the resolve.

Mungkin sistemnya yang perlu diperbaiki, mungkin kualitas manusianya juga yang perlu dibenahi.. I don’t know.. I can only say hei.. this is just my 2 cents 🙂

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan dan @bedahDuit atau bisa mengirimkan email ke admin@wpkami.com/fioneysofyan.com

2 Comments »

  1. Marhen May 7, 2013 at 4:31 AM - Reply

    Bu Fioney Sofyan, terima kasih atas tulisan-tulisan Anda, saya secara tidak langsung sudah mengalami pencerahan dengannya. Doa saya, Ibu tetap dapat berbuat untuk Indonesia melalui tulisan dan pemikiran selanjutnya. Salam

    • administrator May 7, 2013 at 4:37 AM - Reply

      Saya terharu dan tersanjung, membacanya. Terima kasih ya atas apresiasinya. Semoga bermanfaat dan bisa membawa kebaikan..

Leave A Response »