Hal-hal Berat yang Kita Hadapi Sebagai Trader

administrator May 13, 2016 2

Ketika kita pertama kali memasuki dunia pasar modal, rasanya seperti pertama kali menginjakkan kaki di planet lain. Apalagi kalau kita bukan berlatar belakang dunia keuangan dan ekonomi. Namun berbekal itikad baik dan demi masa depan yang lebih menjanjikan, kitapun mulai membuka akun sekuritas dan ikut pelatihan-pelatihan pasar modal mulai dari yang gratis sampai yang berbayar.

Lagipula, kurang keren apa sih namanya kalau ternyata, kita paham loh bahasa saham dan lain-lain.

Untuk sesaat kita lupa sama resikonya, dan mungkin malah kurang bertanya atau memahami, sebenarnya ada hal-hal berat yang akan kita hadapi. Dan ternyata, nggak ada yang cukup bijak untuk memperingati kita atau memberitahu, ada loh hal-hal berat yang akan kita alami sebagai trader pemula. Yang ada malah orang di sekeliling yang tidak pernah trading malah menjudge, kalau apa yang kita lakukan hanya beresiko tinggi dan cenderung judi.

Well, sebenarnya semua tergantung persepsi ya. Lagipula kita kan masih dalam taraf belajar. Nggak ada orang yang langsung jago dalam melakukan apapun, karena proses belajar seperti naik sepeda, perlu jatuh dulu sebelum bisa kita upgrade dari sepeda ke motor. Wong Mas Peter Lynch saja pernah bilang kalo dia butuh waktu 3 tahun kok sampe nyaman trading.

Jadi, agar kita bisa lebih paham dalam menyikapi proses belajar, berikut hal-hal berat yang akan kita hadapi sebagai trader, sebelum kita bisa jadi trader profesional. Apa sajakah itu?

1. Cut Loss
Hal terbesar dan terberat yang pernah saya alami selama trading itu cut loss. Sebenarnya ini juga tes ego. Berani melakukan cut loss sama juga dengan berani mengakui kalau kita salah. Salah dalam mengambil keputusan beli, sehingga harus menjual di harga yang rendah.

Disini bisa terjadi perang batin besar antara ego yang ngotot kalau pilihan saham kita ini benar dan dengan penuh harap (serta doa) kalau harga akan berbalik arah sehingga kita bisa mendulang profit. Guess what? That will never happen.

Yang ada kita beralih profesi dari trader jadi investor jangka panjang dengan dalih,”Nanti juga naik.” Padahal trader trader profesional juga tahu, mending cut loss sedikit sekarang daripada kita kehilangan potensi profit yang lebih besar.

Jujur, ini yang masih belum bisa saya lakukan. Ego masih bermain di sini, sehingga saya tidak tahu batas wajar mana untuk cut loss shingga harus switch ke saham yang lebih baik volatilitasnya sehingga bisa mendulang profit? Saya merasa percaya kok dengan saham-saham pilihan saya, jadi mengapa saya harus cut loss dan switch?

Again, being a professional trader means you can put aside your ego. Kita jadi belajar untuk membuang ego dan belajar rasionalisasi menerima kekalahan dalam loss, yang toh nantinya akan tertutupi oleh profit yang baik 🙂 Pikirkanlah tentang rewardnya bukan lossnya. Toh loss sedikit sekarang bisa membuat kita mendulang profit 3-4 kali lipat kok, jadi lebih menguntungkan malah. Hanya saja, apa kita rela rugi sedikit?

en.tempo.co

foto sumber: en.tempo.co

2. IHSG Nggak selalunya Hijau
Seringkali saya bingung dengan teman-teman trader saya yang malah sedih, panik sambil marah-marah kalau IHSG merah. Pengen ngomong gini “Lha memang begitu. Karena kalau nggak merah, bagaimana kita bisa beli di harga bawah?”

IHSG juga akan diskon sekali-sekali. Sama seperti Sale di pusat perbelanjaan. Kalo Sale begini kok malah sedih? Tapi Sale di Mall malah girang? Kan Sale di saham malah jadi duit, bukan keluar duit.

Biasanya ya, dalam setiap kesempatan, saya selalu menganalogikan ISHG seperti kodok. Kodok kalau mau lompat tinggi kan mesti mijak dahulu. Tapi tetap, kenaikan IHSG ala kodok ini tetap meningkat terus kok. Tinggal bagaimana kita jeli mempelajari kapan ia turun sehingga kita bisa mempergunakan ini sebagai ajang sale dan time to buy.

3. IHSG Hijau All Time High, Portfolio Merah
Ini juga salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh teman-teman sesama trader. Dan ini pasti terjadi juga. Kalau hal ini sampai terjadi, ingat saja satu hal: ini adalah bagian dari proses belajar kita.

4. Antara trading harian dengan investasi setahun ternyata lebih besar investasi setahun
Saya pernah menganalisa satu saham dengan Farhan. Profit yang dia dapatkan sebesar 186% dalam 16 bulan, plus sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, dan lihat chart cuma kalau ingin. Plus main game pula kalau weekend. Apakah ibunya Farhan pernah profit diatas 100% per tahun dengan trading? Enggak loh ternyata.

Jadi yang bisa kita lakukan di sini adalah: kita cari saham-saham apa saja yang bisa kita tradingkan dalam kurun jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Semakin lama kita akan semakin piawai membaca karakteristik saham mana yang enak untuk trading harian, mana yang mingguan, bulanan dan tahunan. Otomatis kita kan jadi less stress, dan profit baik bisa kita dulang terus menerus.

5. Ketika Kita Sudah Jual, Ternyata Harga Naik Lebih Tinggi Lagi
Kalau sudah seperti ini, baiknya kita tetap berpegang pada trading plan kita. Saya malah suka menyiasati situasi seperti ini untuk belajar sabar, dan mengendalikan ego. Ego kita pasti terluka dan kesal karena kok si saham itu malah naik lagi dan ada rasa gemas yang menyelip di hati.

Sampai bahkan ada istilah diantara teman-teman saya: The power of #TahuGituMoment. Tahu gitu saya beli A, tahu gitu saya jual di angka sekian, tahu gitu saya jual dari tadi, tahu gitu saya simpan saja dulu.

Ini masa masa paling lucu loh sebenarnya, dan bisa jadi pembelajaran diri yang terbaik. Disini kita belajar ikhlas dan menerima, rezeki saya memang sudah begini. Mau melawan ego? Disini benar-benar teruji looh. How big is you ego?

6. Terjebak Rekomendasi
Ceritanya sih mau ikut-ikutan pakar. Padahal kita sudah bisa menganalisa dengan ilmu tehnikal analisis kita sendiri. Tapi karena kita ragu, takut dianggap sok pinter, tambahan pula kepikiran “Ah si Anu kan Pakar, mending gue ikut aja deh apa kata Pakar daripada salah.”

Ternyata, analisa kita yang lebih benar daripada si Pakar. Artinya: kita lebih pakar loh sebenarnya, so please kindly rely on yourself. Ini hidup kamu kok, bukan hidupnya si pakar. Sudah saatnya kita mengambil alih hidup kita sendiri dan bukan malah diatur pakar, bukan?

Dices cubes to trader. Cubes with the words SELL BUY. Selective focus

Dices cubes to trader. Cubes with the words SELL BUY. Foto sumber: Forextipsbussines.com

7. Tertipu oleh Manisnya Gombalan Saham Gorengan
Mendadak ada seorang teman yang pakar saham gorengan. Mendulang profit sehari 10% dan 20% itu gampang! Asli gampang! Dan sudah berkali-kali ia lakukan dengan gamblang. Aiiihh.. Tergoda dong!

Layaknya seseorang yang pacaran, sesekali tergoda itu boleh kok. Karena hanya dari patah hati, kita bisa belajar dan menghargai arti yang sesungguhnya tentang relationship. Aaaiiihh!!! Bukan curcol yak! Dan tentunya dalam hal ini adalah relationship dengan saham plus uang kita. Bagaimana kita menyikapi relationship kita dengan saham dan uang kita akan teruji di sini. Apakah kita akan abusive, atau romantis? Apakah kita akan asal, atau protektif? Apakah kita akan objektif, atau subjektif? Apapun itu, mohon diingat, kita masih dalam proses belajar ya, jadi sah-sah aja kok, dan boleh-boleh aja.

8. Everybody Told You To Quit
Akan ada dan banyak sekali orang-orang yang khawatir sama kita, dan menurut mereka apa yang kita lakukan ini salah. Sehingga pada saat kamu cuma pengen curhat karena mengalami proses rugi, yang ada mereka malah menggebu-gebu untuk menyuruh kamu untuk quit. Kalau sampai hal ini terjadi, email saya. Nanti saya kasih trading plan dan pencerahan kenapa kamu harus stay in this business. 😉

Hal ini terjadi semata karena mereka nggak ngerti dan cuma paham berita buruknya saja. Mereka (dan kamu) lupa: 1% penduduk dunia yang mengusai 99% perekonomian dunia, adalah 1% orang yang terjun di dunia persahaman juga. Kamu mau jadi yang 1% atau yang 99% ?

9. You are second guessing if this is right for you
Akan ada masanya kamu akan benar-benar mau menyerah. Pekerjaan kantor mulai terbengkalai, kamu tidur juga mimpinya grafik, istri atau suami sudah mulai komplain, dan kamu mulai terobsesi oleh berita-berita yang menyangkut saham.

Stop! Hentikan semua, libur dulu. Ini adalah masa dimana kamu nggak punya clear mind. Otak kamu sudah lelah dan capai, karena memang proses belajar sesuatu yang baru itu nggak mudah. Jalan-jalan dulu, tutup dulu si grafik dan chart serta trading plan. Anak sekolah saja perlu libur juga kok, apalagi kamu yang baru belajar. 🙂

Nggak ada satu orangpun di dunia ini yang selalu benar dalam trading. Seorang Warren Buffetpun pernah salah dan rugi ratusan milyar dalam investasi sahamnya. Baiknya kita juga yang bijak menyikapi dan menyesuaikan trading plan kita dengan tujuan keuangan.

Semua orang bisa menjadi trader yang handal kok, semua hanya masalah waktu, jam terbang, kesabaran dan atentif dalam menyikapi bisnis kita. Iya, perlakukan trading saham kita sebagai bisnis, dan pasang mindset kita selalu dalam kondisi belajar. Kelilingi diri kita dengan orang yang berjiwa positif, dan jangan pernah berbenti belajar.

Sukses selalu ya untuk semua. Mohon diingat, pohon yang rimbun dan teduh dimulai dari kecambah. Dan yang instan cuma indomie serta minuman sachet. Kalau memang yang instan itu bagus, nggak akan ada restoran fine dining. Kita kelas instan atau kelas fine dining?

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

Namaste

2 Comments »

  1. lies May 13, 2016 at 10:46 AM - Reply

    Hai Mba..
    Makasih Tips nya,
    moga habis CL terbiltlah cuan..

    • administrator May 14, 2016 at 1:25 AM - Reply

      Amien Mba Lies 🙂
      Sesuaikan saja sama trading plannya Mba.

Leave A Response »