Indonesia Knowledge Forum VI: Inspirasikan Pembentukan Ekosistem Ekonomi Digital

yangpunya October 9, 2017 0

Tgl 3-4 Oktober lalu. BCA kembali menghelat Indonesia Knowledge Forum (IKF) VI, di Ritz Carlton Jakarta. Kali ini dengan mengambil tema “Elevating Creativity & Innovation Through Digital Colaboration”, IKF VI menghadirkan 23 pembicara yang kompeten di bidangnya, untuk berbagi ilmu, pengalaman dan inspirasi untuk mengembangkan bisnis di dunia digital.

Dalam acara pembuka, Komisari BCA Cyrillus Harinowo mengungkapkan bahwa Pesta Akbar Pengetahuan tersebut digelar sebagai wadah One Stop Knowledge Solution bagi setiap pelaku bisnis yang membutuhkan strategi digital untuk diterapkan dalam organisasinya. “Dengan tetap fokus pada semangat untuk membangun negeri melalui pengetahuan, IKF VI 2017 ini diharapkan mampu menjadi wadah berbagi inspirasi seputar bisnis ekonomi digital demi kemajuan dunia usaha dan masyarakat Indonesia,” ujar Cyrillus Harinowo, Komisaris BCA.

Pada hari pertama, IKF VI ini menghadirkan Pengamat Ekonomi Faisal Basri, Partner dan Presiden Direktur McKinsey Indonesia Philia Wibowo, Celebrity Investor Ashraf Sinclair, dan Founder merangkap Managing Kejora Group Sebastian Togelang. Untuk hari kedua IKF VI hadir sebagai narasumber diantaranya CEO Alfamart Hans Prawira, CTO Sinarmas Land Irvan Yasi, CEO Telkomsel Ririek Adriansyah, Managing Director Google Indonesia Tony Keusgen, CEO Blibli.com Kusumo Martanto, CEO Investree Adrian A. Gunadi, Country CEO Ninja Express Indra Wiralaksmana, Founder dan CEO Adscom Italo Gani, dan lain-lain.

photo: koleksi pribadi

Era digital memang tengah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan dengan industry lain. Bayangkan Indonesia 5 tahun yang lalu, yang masih terbatas dengan kemudahan-kemudahan yang kita miliki sekarang. Dan daripada perusahaan konvensional, banyak sekali perusahaan start up yang berkembang, yang berbasisi digital, yang semakin marak hadir untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan kemudahan yang mungkin didapat dengan bantuan bisnis yang ditawarkan oleh mereka.

Ashraf Sinclair dengan 500 Durian-nya, hadir untuk membantu pembiayaan start up-start up yang membutuhkan dana agar perushaaannya dapat berkembang dengan lebih baik. Begitu juga dengan Sebastian Togelang dari Kejora Group, menyatakan ada banyak ide yang bisa dikembangkan, namun banyak yang tersandung dana. Untuk itu Ashraf yang percaya akan bisnis di Indonesia yang masih besar, membuka kesempatan untuk siapapun yang membutuhkan pendanaan, untuk mengirimkan proposalnya ke education.500.co.

500 Durian sendiri memiliki misi untuk ‘menemukan’ sebanyak mungkin entrepreneur atau pengusaha yang membutuhkan pendanaan sehingga perusahaannya dapat berkembang lebih baik dan lebih maju. Dan nggak hanya itu, 500 StartUp atau 500 Durian yang dijalankan oleh Ashraf juga akan membantu dalam bisnis model serta pengembangan perusahaan, agar nantinya juga bisa bersaing dalam ekonomi global.

foto: koleksi pribadi

Dalam kesempatan terpisah, saya berkesempatan untuk bertanya pada Sebastian mengenai pendanaan ini. Dan ia menjelaskan, “Ibarat seseorang yang bisa menyetir dan sudah pernah memiliki kendaraan biasa, peran kita adalah seolah kita memberikan mercy agar perusahaannya bisa lebih besar dan ia lebih bisa ke mana-mana dengan pendanaan yang ada. Namun perlu juga ada track record dari perusahaannya terlebih dahulu selama 2 tahun ke belakang kalau memang menghasilkan dan ada perkembangannya secara signifikan. Hanya saja perlu pendanaan tambahan agar bisa lebih besar lagi. Apa yang kita lakukan adalah mempermudah pengadaan dana, dan juga mentoring. Kita juga akan lihat bagaimana si pemilik perusahaan sebagai founder apakah memiliki jiwanya di perusahaan tersebut. Jadi tentunya akan ada screening dan pertimbangan lain tentang apakah ia kompeten untuk didanai.”

Di hari ke-dua, saya kembali belajar tentang pentingnya targeting data yang ada dan bagaimana Italo Gani dari Adskom bisa membantu secara spesifik untuk melakukan marketing atas data yang kita punyai agar tepat sasaran. Dan juga dari Simon Wong, tentang bagaimana pentingnya marketing dengan mempergunakan artificial intelligent untuk melengkapi penggan dengan automated data science dan business intelligence sehingga mereka dapat memanfaatkan secara potensial dari channel digital marketing yang mereka miliki.

Memang di era digital ini, kalau kita memilih untuk tidak beradaptasi dan mengikuti perkembangan yang ada, maka kita nggak hanya akan tertinggal, namun juga akan terlibas serta hancur karena tidak dapat mengikuti perkembangan yang ada.

Era digital berfungsi untuk mempermudah dan memecahkan masalah yang ada, sehingga masyarakat nggak hanya dapat mengalami kemudahan, namun juga kenyamanan.

foto: koleksi pribadi

Hadir dalam penutupan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Ignasius Jonan mengungkapkan akan pentingnya tehnologi informasi dalam mendorong efisiensi pengelolaan sumber daya energi. Kita harus akui, dengan adanya perbaikan infrastruktur, walau sekarang pasih dalam tahap pembangunan yang mengakibatkan kemacetan, namun perbaikan itu ada.

Sangat penting bagi masyarakat kita untuk memiliki kemudahan akses. Dan masyarakat dengan perbaikan infrastruktur, tentu akan banyak daerah yang lebih mudah terjangkau, akan ada pemerataan yang baik dan inflasi bisa ditekan. Ada kesinambungan antara semuanya, yang kemudian didukung oleh akses digitalisasi yang mempermudah.

Dengan komitmennya untuk memberikan inspirasi dan pengetahuan baru bagi setiap pelaku bisnis yang membutuhkan strategi digital, IKF VI 2017 ini juga mengadakan serangkaian Expo yang diikuti oleh 35 start up dan penyedia pengetahuan tehnologi terpilih.

Jadi nggak heran, dengan berfokus pada tema besar “Moving Our Nation to the Next Level” yang berlandaskan pada semangat untuk membangun negeri melalui pengetahuan, IKF VI 2017 ini mampu menjadi wadah berbagi inspirasi seputar ekonomi digital demi kemajuan dunai usaha masyarakat Indonesia.

Leave A Response »