Kembali Belajar tentang Literasi Keuangan Bersama Mba Prita Ghozie, Bagaimana Sih Caranya Mengatur Anggaran Keuangan #IbuBerbagiBijak

yangpunya August 24, 2017 2

Lama nggak belajar kembali di dunia literasi keuangan, ada loh rasa kangen banget untuk kembali update dengan ilmu-ilmu baru yang mungkin ada. Apalagi kebetulan kali ini saya diundang oleh Visa dalam acara #IbuBerbagiBijak yang akan membahas tentang bagaimana sih sebenarnya mengatur anggaran, bersama Mba Prita Ghozie.

Sayangnya pada pertemuan pertama nggak sempat ikut karena ada acara lain, namun Alhamdulillah di sesi kedua #IbuBerbagiBijak dengan topik mengatur anggaran ini bisa hadir. Yaaiiyyyy..

Jadi apa sih yang penting supaya kita bisa mengatur anggaran belanja kita supaya lebih baik, efisien dan efektif?

Pertama: kita mesti tahu, apa sih yang menjadi kebutuhan kita dan bisa kita anggap penting?
Semua orang pasti memiliki kebutuhan dan prioritas yang berbeda-beda. Ada yang butuh menyiapkan uang untuk pernikahan, menyiapkan dana pembelian mobil, meyiapkan dana pembelian rumah, menyiapkan dana pendidikan anak, menyiapkan dana kelahiran anak, dan yang nggak kalah penting menyiapkan dana ibadah (Haji untuk yang Muslim, ke Lourdes untuk yang Kristiani) dan dana pensiun.

Tapi satu hal yang benar-benar membuat saya tersentak banget adalah waktu Mba Prita menunjukkan slide-nya yang berbunyi Gaji Tidak Berhubungan Langsung Dengan Kaya, Tapi Gaya Hidup!

 

photo credit: koleksi pribadi

 

 

Berapapun penghasilan kita, sebenarnya kita bisa banget kok menjadikannya cukup. Dan ini saya rasakan benar-benar banget (sengaja pakai pengulangan sebagai self reminder 🙂 ). Yang membuat sesuatu menjadi mahal dan kurang bagi saya ya, gaya hidup. ‘Kebutuhan’ saya untuk jalan-jalan dan networking dengan teman, olah raga dengan item-item tertentu, dan hal-hal lain yang sebenarnya di luar pengeluaran rutin. Namun ya itu, bukan pengeluaran rutin, tapi dirasa perlu sehingga pengeluaran extra itu terjadi.

Jadi, apa yang bisa saya lakukan sebenarnya untuk mengantisipasi hal ini supaya penghasilan saya nggak melulunya tergerus dengan gaya hidup?

Jawabannya sederhana: Kita mesti tahu apa yang menjadi kebutuhan kita saat ini dan masa depan.

Jadi setelah poin pertama kita tahu kebutuhan kita yang kita anggap penting itu apa, maka poin kedua adalah tentang memahami kebutuhan.

photo credit: koleksi pribadi

Nah kebutuhannya di bagi 2 menjadi kebutuhan saat ini dan kebutuhan masa depan.
Kebutuhan saat ini adalah kebutuhan yang jatuh temponya dalam waktu 12 bulan ke depan, seperti misalnya bayar uang sekolah anak-anak, atau pengeluaran rutin setiap bulan aslias belanja dapur.
Sementara kebutuhan masa depan adalah kebutuhan yang jatuh temponya di atas 12 bulan. Seperti misalnya dana pendidikan anak untuk uang pangkal mereka kalau masuk SD, SMP, SMA, Kuliah, kebutuhan untuk naik haji atau persiapan dana pensiun.

Nah loh? Kalau merasa gajinya pas-pasan, bagaimana?

Ketiga: Skala Prioritas

Mba Prita kemudian juga memberikan penjelasan mengenai skala prioritas. Jadi setelah terima gaji, kita harus tahu prioritas lokasi penghasilan kita buat apa saja.
1. Zakat, Infaq dan Sedekah
2. Bayar pinjaman
3. Tabungan dan Iestasi Masa Depan
4. Persiapan masa sulit
5. Biaya hidup
6. Anak dan pendidikan
7. Gaya hidup

Dan untuk bisa memenuhi semua itu, penting banget buat kita untuk Set Goals, Make Plan, Get to work (iya dong, kita kan mesti kerja ya untuk memenuhi kebutuhan kita, dan kalau kurang kerja yang lebih keras dan lebih banyak lagi), dan kita juga jangan pernah lupa untuk stick to it, alias konsisten dan pasti nya goals apapun akan tercapai.

Nah berapa persen sih sebenarnya dari penghasilan yang bisa kita alosaksian dan untuk apa saja? Bisa dilihat di sini ya.

photo credit: koleksi pribadi

 

 

Sebagai ibu, walau ada penghasilan mungkin dari pasangan atau hal-hal lain, biasanya sih ibu yang mengatur kebutuhan dan pengeluarannya semua. Dan biasanya si bapak akan mempercayakan semuanya pada si Mamah. Nah supaya kita bisa menjadi ibu yang bijak dalam hal keuangan, pertama yang bisa kita lakukan adalah mengetaui berapa banyak sih pengeluaran kita yang sebenarnya, sebelum membaginya kembali dalam bentuk investasi dan lain-lain.

Satu hal yang menarik yang Mba Prita utarakan adalah pengeluaran bukan berdasarkan kebutuhan primer, sekunder dan tersier lagi, tapi disesuaikan juga dengan sebenarnya antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan seseorang dengan yang lain memang berbeda. Kebutuhan networking dan tampil cantik kadang diperlukan untuk menambah pertemanan yang berujung pada kesempatan dan tawaran kerja, misalnya, jelas nggak bisa disamakan dengan seseorang yang memang nggak ada kebutuhan untuk networking terus menerus.

Tapi yang jelas, kebutuhan akan liburan dan persiapan masa pensiun mesti dan kudu banget dipersiapkan. Ini kata Onie ya. Karena biar bagaimanapun, kita nggak mau bukan sudah kerja sebegitu lama namun nggak bisa menikmati hasilnya? Dan belum tentu juga masa pensiun yang kita dambakan itu bisa dijalankan dengan baik. Entah karena uang yang kita miliki sudah habis padahal kita ‘masih hidup’ atau kita terpaksa masih harus bekerja lagi demi mengisi waktu dan memenuhi pengeluaran.

Nggak kebayang oleh saya kalau saya harus menggantungkan hidup saya pada orang lain terutama pada anak-anak (yang ternyata banyak loh yang sudah merencanakan seperti ini) ketika saya sudah tua nanti dan sudah nggak sanggup kerja. Malah kalau bisa, dengan senang hati saya yang justru bisa membantu anak-anak nantinya, karena jelas, mereka itu permatanya saya.

Apapun alasannya, bagaimanapun kondisinya, tetap pengaturan pengeluaran dan persiapannya untuk investasi, liburan pendidikan, pensiun dan lain-lain harus dimulai dari sekarang serta sedini mungkin. Karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, namun setidaknya hari ini, kita sudah melakukan sesuatu untuk masa depan yang lebih baik dan nyaman.

Terima kasih ya Mba Prita untuk sesi #IbuBerbagiBijak -nya.

2 Comments »

  1. lies September 16, 2017 at 10:43 AM - Reply

    Hai Mba…
    Makasih ilmu nya.. sangat bermanfaat.

    • yangpunya September 19, 2017 at 4:01 PM - Reply

      Mba Lies apa kabar? Semoga baik-baik saja ya Mba

Leave A Response »