Ketika 1000 Kehidupan di Dalam Satu Nafas

administrator January 27, 2016 0

Ini bukan tulisan saya. Namun tulisan salah seorang teman baik saya, ketika saya bertanya padanya, Cinta itu apa sih? Dan dalam percakapan random, inilah jawabannya 🙂

“Cinta sejati itu seperti hantu, banyak orang membicarakannya namun hanya sedikit yang benar-benar melihatnya”
~Francois de la Rochefoucauld~

Kehidupan sendiri sebenarnya adalah sebuah kenangan, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, yang kita tahu adalah sekarang dan ingatan atas masa lalu. Cinta sebagai sebuah buah bibir yang telah berjalan millar-an tahun di bumi menghasilkan Maha Karya bagi kehidupan seseorang bahkan dunia, sebuah sentuhan keindahan yang terkadang kita sendiri bingung, bagaimana bisa seseorang melakukan hal itu terhadap seseorang atau sesuatu dengan mengatasnamakan cinta.

Banyak teori yang mengklasifikasikan cinta, mungkin bagi anak psikologi yang paling terkenal adalah klafisifiaksi dari Eros – Agape, usaha yang baik dalam mengklasifikasikan cinta. Namun ternyata hidup tidak sesimple itu bukan? Jangan membayangkan kehidupan dunia yang terbuka seperti sekarang, dimana kita dapat bertemu dengan orang, mengajaknya kencan dengan “mudah”..ehhmmm (sengaja tanda petik karena gak semudah itu), atau travelling bersama (ini lebih susah lagi).

Konon kabarnya, nenek moyang kita dulu dikawinkan dengan sistem perjodohan, tiba-tiba kita diperintahkan mengawini seseorang yang tidak kita tahu. Mereka harus menjadi agape dan perlahan turun ke eros. Saya sendiri susah membayangkannya. Namun jangan terkecoh dengan perkataan bahwa hal tersebut lebih baik karena tingkat perceraian lebih sedikit. Well, not entirely true. Ini sama saja menganalogikan kecelakaan lalu lintas, dulu kecelakaan lebih sedikit, bukan karena gaya menyetirnya hebat namun karena memang populasinya sedikit.

Perkawinan berdasarkan cinta baru dikenal setelah perang dunia kedua, dulu orang kawin didasarkan atas perluasan kekuasaan, baik perluasan kerajaan, keluarga sampai perluasan penggarapan ladang/sawah. Yang benar itu kawin bukan nikah karena di indonesia itu UU Perkawinan bukan Pernikahan.

Mari kita ingat kenangan kita mengenai cinta. Ingatkah ketika kala pertama kali kita jatuh cinta?

Sebenarnya jika mau jujur, bekas jatuh cinta pertama itu bukan karena kita jatuh cintanya namun mengapa hal indah itu tidak selamanya terjadi pada kita bukan? Lebih tepat dikatakan jejak daripada bekas. Hidup butuh sesuatu yang baru bukan bekas…

Yang saya coba katakan jejak itu lebih ke arah penasaran mengapa cinta pertama kita bukan pasangan kita, kok gagal sih? Padahal kan si GUE ini cinta mati ama si ELO.

Sangat beruntung ketika cinta pertama anda sekarang disamping anda. Tapi assumsi saya hanya 4% yang beruntung jadi jangan khawatir atau merasa sendiri, cinta juga mempunyai sistem demokrasi, majority rules.

Sekarang mari kita ingat kencan pertama, gandengan pertama atau ciuman pertama?

Jujurnya sih, saya sendiri lupa dan saya merasa kagum dengan orang-orang yang masih mengingat detail hal tersebut, kata mereka sih kencan pertama itu tak terlupakan. Saya rasa bukan kencannya namun persiapannya, bagi yang perempuan dari pemilihan model rambut, baju juga baju dalam, bahkan kuku membuat mereka stress, bagaimana dengan yang pria? Ya sama saja, memang pria bukan manusia? cuma mungkin gak sampe ke kuku kali ya cyinnn…

Momentum dari persiapan sampai bertemu itu yang membuat jantung berdebar, salah tingkah, bahkan salah pikir. Gimana ya nanti jika dia gak suka? Gimana ya nanti jika filmnya jelek? Gimana ya jika nanti mau gandengan? Dan moment puncaknya ketika dua persiapan terbaik bertemu, saya ulangi ya, dua persiapan bukan dua orang. Karena yang pergi atau yang menunggu adalah orang yang berbeda ketika bangun tidur.

Jika kita sudah menemukan pola kencan maka pola yang lain “seakan-akan” menjadi biasa saja, your mind learn something. Apakah anda yakin bahwa ciuman pertama anda sukses? Lha gimana mau sukses, jantung gak kompromi dan keringet dingin menyerang, untung masih muda ketika itu, klo sudah umur Jelita (Jelang Lima Puluh Tahun) bisa masuk UGD.

But, we addict with the spark, arent we?

Jadi apakah cinta itu fisikal atau emotional ? menurut saya sih kedua-duanya, walau pada akhirnya fisikal akan memudar dalam artian di dunia psikologi dikenal dengan nama penerimaan karena terbiasa atau dalam istilah yang keren television effect. Contohnya tukul arwana, bukan bermaksud menilai secara fisik, awal mula tukul arwana tampil masyarakat akan menilai sebagai seseorang yang kurang menjual bukan? Namun lama kelamaan pikiran kita akan menerima dan anehnya tukul tidak sejelek pertama kali dia tampil, betul gak?

Selain tukul, kita bisa melihat evolusi bintang-bintang terkenal. Begitu juga dengan fisikal..pada akhirnya bagi pikiran anda, hal itu akan menjadi biasa saja. Anyway, saya gak menyarankan anda dengan pasangan yang jelek ya.

Dalam teori consumer behavior, semua keputusan membeli berdasarkan emosi, saya rasa ini juga berlaku dalam keputusan kita mengatakan iya atau tidak dalam cinta. Kita bisa tergila-gila kepada seseorang mungkin karena dengan kacamatanya terlihat smart and charm, atau tidak sengaja melihat ketika berpiyama karena dia begitu cute. Kata sifat yang anda sematkan dalam sebuah subjek adalah nada emosional, ingat itu.

Emosi apa yang terpenting dalam sebuah keputusan? Sikap hidup.

Kita semua, pada akhirnya, akan tergila-gila dengan seseorang yang mempunyai sikap hidup yang dewasa. Apa salah satu ciri dewasa? Adalah orang-orang yang mampu menertawai hidupnya, alias gak jaim. Capek gak sih jika harus ter-attach dengan orang-orang jaim. Interaksi sikap hidup inilah yang membuat pada akhirnya cinta berlanjut atau tidak.
Life is satire but we take it too seriously. It is never about you, it is always about life it self.

Saya teringat ketika itu salah seorang sahabat saya Mbak Oney akhirnya bertanya. Jadi menurut Mas Fany, cinta itu apa.

Saya jawab dengan spontan, mungkin saya orang yang terlalu filosofis, dengan alegori saya menjawab “cinta itu ketika 1000 kehidupan berada di dalam satu nafas”. Karena itu ketika kita jatuh cinta kita merasa hidup bukan? Sel-sel tubuh berasa teraktivasi dan berenergi, dan dunia menunjukan keindahannya.

Karena itulah ketika jatuh cinta kita merasakan jejak yang sempurna, kita merasakan bahwa perjalanan hidup kita tidak sia-sia. Jatuh cintalah setiap hari…

Jadi benar apa yang dikatakan om Francois Rochefoucauld, cinta sejati itu seperti hantu. Karena kebanyakan kita tidak pernah merasakan cinta hanya sebuah sparks, karena jika kita merasakan 1000 kehidupan dalam sebuah nafas, maka 1000 kehidupan juga akan kita berikan kepada orang yang kita cintai.

Akhir kata, banyak orang tidak tahu mengapa dinamakan jatuh cinta, because we never learn how to fall. Jadi jika ada orang yang mengatakan akan belajar mencintai anda lebih baik berpikirlah dua kali, just a suggestion.

-Fani Salika Pratama

Leave A Response »