Kita Tidak Harus Melupakan Mimpi

administrator June 29, 2015 0

Salah satu hal yang paling menyenangkan selama bulan puasa kali ini adalah kesempatan bisa bercengkerama lebih lama dengan anak-anak. Karena berbarengan dengan masa liburan sekolah. Dan ternyata, baru kali ini saya tahu, tentang impian-impian Farhan, passionnya dan rencana-rencananya yang luar biasa ajaib.

Ajaib, iya ajaib. Karena seingat saya, seumur Farhan (sekarang 14 tahun) saya ga punya impian sebesar itu. Bahkan Farhan berani sekali bicara seperti ini,”If travelling is free, Mom, I’ll be gone!” Hayuuuhhhh.. Emaknya mau ditinggal :'(

Dari pembicaraan yang lumayan panjang dengan Farhan, ada 2 hal yang kepikiran banget sama saya;
1. Ok, I have to provide everything for him, in order for him to fulfill his dream. Ga masalah. Bisa kok. Emaknya kan tahu itungan-itungan investasi. Dan toh Farhan juga sudah punya saham sendiri yang memang diperuntukkan buat hidup dia nanti.
2. What happen to my dream?

Berasa digampar. Iya.. what happen to my dream?

Saya sama sekali ga inget impian saya apa, bagaimana dan ya apaaaa ?

Hiks..

Melihat kembali ke Farhan, bukankah kita semua pernah muda? It’s just me and the world, and no one is stopping us! Keribetan dan masalah yang muncul hanya sebatas PR, Tugas dan Ujian sekolah. Kayaknya untuk merangkai cita dan impian.. limitless..

And then kemudian datanglah dunia kerja.. dan kewajiban. Kemudian kita menikah, punya anak, dan entah kenapa kita justru malah mulai melupakan cita-cita dan impian kita dahulu. Sebagian dari kita beruntung memang, bisa menghidupi diri justru dengan cita-citanya. Atau dengan kata lain: some people living their life with their dreams, others can only dream it.

Berpikir bahwa rutinitas pekerjaan malah menguburkan mimpi sehingga kita justru malah mengabaikan apa yang terpenting dalam diri kita, yaitu impian dan cita-cita kita, adalah hal yang dialami lebih dari 80% sebagian penduduk dunia. Dan berpikir.. semua hanya muluk-muluk belaka.

Satu hal yang kita lupa: the person who is stopping us from embracing our dreams, is ourself. Rasa takut, ga yakin, bahkan emosi karena berpikir yee semua kan perlu biaya. Sementara yang namanya biaya ga akan kita dapat tanpa bekerja, jadi bagaimana mau repot ngurusin mimpi?

Padahal, hal diatas ga sepenuhnya benar.

Salah satu mentor saya, Mark Hemstedt belasan tahun yang lalu, pernah bilang begini ke saya,”If you have all the time and money in the world.. what will you do? Go! Do it now!”

Entah kenapa kata-katanya nempel kuat banget di otak saya, setiap kali saya mau give up atau takut melakukan sesuai yang baru. What do I want? Apa yang saya mau? Apa yang menghentikan saya untuk tidak melakukan itu? Apa alasan saya?

Ketika saya mulai menepis alasan-alasan saya, yang ada hanyalah .. ga ada.. ga ada alasan lagi bagi saya untuk tidak melakukan apa yang ingin saya lakukan, apa yang saya cita-citakan.

Seperti yang pernah Maya Angelou ungkapkan,”Kalau kita bisa berhasil, dan kita tahu apa yang kita lakukan pasti berhasil, dijamin 100% ga akan gagal, what will you do?”

Ada satu artikel menarik yang ga sengaja saya temui, judulnya 20 People Who Became Highly Successful After Age 40 Nama-nama besar seperti Stan Lee, Henry Ford ada di situ. Atau cewe-cewe siapa yang ga kenal Vera Wang? Parfume saya parfume keluaran Vera Wang. Baru parfumenya saja udah luar biasa, belum lagi design-design fantastis pakaian rancangannya. J.K Rowling juga, Harry Potter itu ditulisnya di usia 46 tahun.

We owe it to ourself to live a life base on the dream we have about ourself.

Kalau misalnya memang kendalanya adalah urusan finansial, mulailah berinvestasi. Mau reksadana, atau saham, atau property, semuanya baik. Reksadana bisaaaaa banget memberikan return baik 25% setahun. Dan banyak sekali saham-saham BUMN yang dalam kurun tahun 2002-2012 menghasilnya kenaikan harga sahamnya sampai 993% bahkan 2233%.

Dan investasi itu ga selalunya harus mahal. Berinvestasilah Sejauh Isi Dompet

Lumayan kan kalau kita nabung di saham atau reksadana untuk jangka waktu 10 tahun saja misalnya, sangat mungkin uang yang kita hasilnya jauh lebih dari cukup dari yang kita butuhkan untuk biaya hidup plus menghidupkan kembali mimpi-mimpi kita.

Saya tahu caranya dan saya tahu bagaimana hidup saya nanti dalam 5 tahun sampai 10 tahun ke depan. Mungkin saya malah bisa jadi saksi ngikutin Farhan menghidupkan mimpinya atau bahasa kerennya Living his own dream.. Dan, untuk saya sendiri, saya tahu kapan saya bisa mengejar impian saya, dan melakukannya tanpa takut dengan kata terlambat.

Investasi memang memakan waktu, tapi daripada kita tidak pernah melakukan investasi, kita malah membuang lebih banyak lagi waktu yang berharga, entah buat apa. Dan lebih buruk lagi, kita ga pernah tahu what we could have been, dengan menghidupkan kembali cita-cita dan impian kita.

What if our dream is not just a dream?

Bagaimana dengan Anda?

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

Leave A Response »