Mengintip Kerennya Reksadana Saham Konstruksi

administrator March 23, 2016 0

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang sahabat saya bertanya dan memberitahu saya soal keberadaan Reksadana Saham Konstruksi. Kontan saya loncat dari tempat duduk saya! Asli keren amat kok ini Reksadana. Kenapa keren?

1. Bidang Konstruksi Lagi Gila-Gilaan Perkembangannya
Coba lihat ke sekeliling kita. Berhubung saya tinggal di daerah dekat dengan Jakarta, banyak sekali pekerjaan konstruksi yang sedang dilaksanakan. Mulai dari pembangunan double fly over, sampai MRT, ada pekerjaan jalanan yang cukup jelas di sini.

Pertanyaannya: Perusahaan konstruksi apakah yang terlibat? Mungkin sudah saatnya sekarang kita menjadi aware dengan pembangunan di daerah kita sendiri dan jadi peka sehingga bisa tahu dengan mudah perusahaan apa saja nih yang saham-sahamnya ada di bursa efek, yang juga ikut berperan. Sehingga otomatis, kita jadi tahu perusahaan konstruksi mana yang layak koleksi.

m.tempo
foto sumber m.tempo.co

2. Isi si Reksadana tersebut
Isi dari reksadana yang disebut oleh sahabat saya itu adalah: Waskita, Adhi karya, Jasa Marga, Wijaya Karya, Semen Gresik dalam satu produk, dan terselip juga ada Unilever plus Astra.

Nggak heran disebut rekasadana saham konstruksi, karena ada Waskita, Adhi Karya, Wijaya Karya yang memang bergerak di bidang konstruksi. Logikanya jumlah persentase saham ini ada diatas 50%. Semen Gresik, bisa di analogikan sebagai ‘bahan dasar’ karena bagaimanapun yang namanya konstruksi ‘kan butuh semen ya. Jasa Marga di sini sebagai ‘penyedia jalanan’. Simple aja, konstruksi di sini kalau nggak ada jalan raya atau jalan tol yang melewatinya, gimana? Jadi ada kesinambungan yang ok di sini.

Kemudian terselip diversifikasi di Unilever dan Astra. Buat saya ini ibarat Bakso dalam Mie ayam. Bisa ada, bisa nggak, tapi nggak mengurangi namanya, malah bisa jadi Mie Ayam Bakso. Tambah kerennya karena seolah Chef si Reksadana Saham Konstruksi ini paham benar (dan cerdas) menambahkan adanya Unilever dalam racikan sahamnya. Unilever dan Astra tentunya ya, yang kalau kita menilik lebih jauh, termasuk saham-saham yang bagaimanapun kondisi negara, tetap saja keberadaannya dibutuhkan.

3. Progresnya terukur
Nggak seperti saham-saham lain yang kebanyakan harus kita pelajari lebih lanjut mengenai laporan keuangan perusahaannya untuk memahami fundamental analisanya sehingga kita bisa menentukan apakah sebuah saham atau reksadana tersebut layak dikoleksi. Saham dalam reksadana konstruksi ini lebih simple.

Kali ini cukup lihat ke sekeliling. Estimasi saja secara kasar, kira-kira kapan double fly-overnya selesai? Kapan MRT selesai? Dari situ saja kita bisa melihat jangka waktu yang kira-kira kita bisa pakai sebagai tolok ukur penyimpanan untuk berapa lama baiknya si reksadana saham konstruksi ini bisa kita simpan. Atau kalau mau lebih peka lagi, mulailah membaca-baca berita, koran atau majalah tentang hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

Dari sini kan terlihat bagaimana tender-tender atau kontrak yang mengusung perusahaan konstruksi kita (iyes, perusahaan konstruksi kita) memiliki progres yang bagaimana dalam pengembangannya.

lipitan6
foto sumber liputan6.com

4. Milik BUMN
Indonesia adalah negara yang berkembang. Selama kita masih percaya kalau Indonesia akan terus berkembang dan akan menjadi negara besar, tentunya yang akan mengusungnya adalah perusahaan-perusahaan milik negara.

Apa sajakah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi? Itu jadi PR kita ya 🙂
Yang jelas di tahun 2014, kenaikan saham perusahaan-perusahaan BUMN di bidang konstruksi ini ada yang meningkat 100-200% per tahun dari awal Januari 2014 sampai ke penutupan Desember 2014. Dan bukan mustahil angka ini akan berulang kembali di tahun 2016, 2017 dan seterusnya menginggat makin galaknya bidang konstruksi kita digerakkan.

Bahkan kalau kita mau menilik lebih lanjut ke belakang, sejauh track record 5 tahun ke belakang, ada loh saham-saham konstruksi yang naiknya di atas 500% tanpa pernah turun, sejak tahun 2011. Asik ya. Dan saham saham BUMN Kontruksi ini ada beberapa yang begitu. Nggak cuma 1-2-3 saja.

5. Baru ada 4 Managemen Investasi yang mengeluarkan Reksadana Saham Konstruksi
Ini adalah satu hal yang saya agak heran, namun menyambut baik bagi ke 4 mamagemen investasi yang cukup peka untuk melihat peluang dengan membuat pilihan instrumen investasi reksadana saham konstruksi.

Dari semua manager investasi yang ada, produk reksadana saham konstruksi cuma baru 4 loh. Jadi kalau kita cukup jeli melihatnya, ini adalah kesempatan yang bagus dan jelas si manager investasi cukup cerdas dalam memanfaatkan momen. Pilihan sektoral lain tidak cukup menarik mengingat adanya berbagai faktor yang membuatnya menjadi tidak stabil atau tidak bisa ‘dipegang’ walau tahun-tahun sebelumnya mampu memberikan hasil imbal balik yang baik, bahkan di tahun 2015 banyak sekali yang terpuruk tanpa alasan yang jelas.

Lain halnya dengan konstruksi yang justru malah mencuat dan tampil seksi dibanding sektoral lain.

Tapi tentunya ini adalah pendapat pribadi saya, ya sehingga apapun keputusan pemilihan saham adalah hak masing-masing. Tulisan ini bukan rekomendasi, hanya opini, dan segala bentuk pengambilan keputusan yang berhubungan dengan instrumen investasi bukanlah tanggungjawab saya melainkan tanggung jawab masing-masing individu.

Dan perlu diingat juga kalau yang namanya instrumen investasi, baiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu, dan pahami kalau instrumen investasi reksadana baiknya dimiliki untuk investasi jangka panjang, bukan untuk kepentingan jangka pendek.

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin bertanya langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

Terima kasih. Namaste.

Leave A Response »