Mengubah Usaha UKM Menjadi Bisnis Multimillionaire

administrator February 4, 2013 0

Sambil menunggu, pada tgl 30 Januari 2013 di sebuah stasiun tv swasta menayangkan berita tentang bagaimana 50% danau dan situ yang ada di Jakarta, tidak dapat berfungsi dengan baik. Dan kemudian bisa kita tebak alasannya, tidak lain adalah karena sampah.

Tiba-tiba saya teringat dengan cerita tentang ayah saya, yang dahulu pernah diceritakannya sewaktu saya masa kecil.

Ayah saya, bernama Drs. Sofyan Ponda. Ia lahir di Bukittinggi pada tgl 6 Juni 1930, dan hidup di jaman peperangan Jepang, Belanda, dan 2 era kepresidenan, Soeharto dan Soekarno. Ia cerita kalau ia pernah menjadi tentara pelajar, dan setelah melewati masa-masa  sulit, ia akhirnya lulus SMA di usia 33 tahun.

Saya akan bercerita tentang beliau sedikit demi sedikit, namun kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana usaha geniusnya dengan hanya mempergunakan sampah, ia mampu mengubahnya menjadi emas.

Ayah saya tinggal di daerah yang bernama Ranah Guguk, di kaki Ngarai Sihanouk, Sumatra Barat. Rumahnya beralaskan tanah, dan dinding hanya dari anyaman bambu. Kesehariannya ayah saya harus menempuh berkilo-kilo meter jarak hanya untuk kayu bakar dan air bersih, demi bisa menjalani kehidupannya sehari-hari.

Perang membuat situasi ekonomi ayah saya yang sejak usia 9 tahun sudah menjadi anak yatim, semakin memburuk. Namun ayah saya bertekad untuk mengubah nasib menjadi peluang baginya.

Karena tidak adanya pekerjaan, ayah saya sering menghabiskan waktu di pasar, untuk berjualan kue cucur, atau sebagai kuli angkat. Alhamdulillah karena rasa ingin tahunya yang besar, ia suka sekali membaca koran atau buku-buku yang tertinggal dan di buang, dan lain-lain.

Efek terbaik masa penjajahan sewaktu itu adalah, membuatnya bisa berbahasa Jepang lengkap dengan kefasihannya menulis dan membaca huruf kanji. Dan dari situ ia membaca tentang bagaimana membuat sampah organik, menjadi sabun. Dalam masa peperangan, sabun adalah suatu benda yang sangat langka dan mahal, baik karena keterbatasan bahan baku, maupun sumber daya dan tenaga kerjanya yang tidak optimal.

Semua orang hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri di tengah kekalutan situasi yang tidak menentu. But not my Dad.

Ia melihat dan mengobservasi, apa yang menjadi tingkat kebutuhan tertinggi masyarakat pada waktu itu. Dengan ketekunannya, ayah saya kemudian berhasil mengolah sampah organik dengan peralatan yang sangat sederhana (bayangkan situasi di tahun 40-an) menjadi sabun. Kalau jaman dahulu di Sumatra Barat, namanya Sabun Beko.

Dari tiada menjadi ada, dari sabun ayah saya mulai membeli emas 1 (satu) gram. Dan tiap penambahannya dibelikan lagi  1 (satu) gram emas. Dan seiring dengan waktu, ayah saya memiliki salah satu toko emas terbesar di Sumatra Barat yang bernama PT. Djambak Mas.

Ayah saya kemudian merantau ke Jakarta, mendapat bea siswa di Perpajakan, dan singkat cerita pada tahun 1980-an, ia menunjukkan pada saya di sebuah majalah bahwa namanya terdapat dalam daftar 100 orang terkaya di Indonesia, dan media menjulukinya ‘Raja si Pemilik Hotel Kecil’ and that makes me a Princess 😉 hahahahaha..

Intinya adalah kesempatan tidak akan datang kalau kita tidak mau melihatnya. Kita mencari dan melihat kesempatan itu ada, bukannya menunggu untuk datang ke kita.

Ayah saya dengan segala keterbatasaanya, mampu melihat sampah sebagai peluang dan menjadikannya sebagai emas untuk kemudian mengubahnya menjadi bisnis milyaran rupiah. Dan itu semua terjadi antara rentang waktu thn 1945-1988.

Kita sekarang tinggal di abad 21, tahun 2013.. apa alasan kita untuk tidak menjadi kaya?

Kesempatan itu datang melalui banjir, karena dari banjir, datanglah sampah. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengolah sampah kembali menjadi emas dan mengubahnya menjadi bisnis multimilyaran?

Atau kita lebih memilih untuk menunggu, beralasan, dan bahkan mencari jalan yang lebih mudah untuk bisa memiliki kesejahteraan?

Ketika kita mulai berhenti untuk memikirkan diri kita sendiri, dan memulai usaha demi kebaikan dan untuk orang banyak, sebuah usaha sederhana bisa menjadi bisnis milyaran yang tidak terduga sebelumnya. Dan untuk itu, kita membutuhkan plan atau perencanaan yang tepat.

Target, goal, visi, misi adalah suatu langkah awal yang bisa kita lakukan dalam memulai usaha kita sebagai entrepreneur, sebelum kita menentukan produk apa yang akan kita jual atau jadikan komoditas.

Jadikanlah usaha awal kita dengan mengobservasi, menciptakan demand atau kebutuhan, atau sesederhana ATM = AMATI-TIRU-MODIFIKASI.

Dalam artikel berikutnya saya akan berbicara lebih jauh mengenai mengapa UKM justru bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia dan bagaimana peranan pentingnya untuk mendongkrak stabilitas ekonomi kita secara keseluruhan. Dan bagaimana peran kita menjadi sangat penting di sini, dan betapa banyaknya sebenarnya kesempatan sederhana yang bisa menjadi peluang emas, untuk banyak hal dan banyak orang..

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan dan @bedahDuit atau bisa mengirimkan email ke admin@wpkami.com/fioneysofyan.com

Leave A Response »