My Decaf Tall Caramel Latte

administrator February 11, 2012 0

Praktis sebenarnya saya bukan peminum kopi. Saya kurang suka rasa pahitnya, namun untuk merk tertentu, saya selalu suka Decaf Tall Carmel Latte yang menurut saya terenak.Sekarang saya mengerti istilah ‘Wake up and smell the coffee!” Memang awalnya adalah wanginya yang mampu memberikan sensasi lebih ke indra penciuman dan otak kita, dan tentunya, efek kafein yang mampu memberikan energy ekstra.

No caffeine for me, dalam hal ini, sesederhana karena saya ga tahan dengan sensasi deg-degan di jantung saya akibat adrenalin yang timbul dari kafein. Tapi tetap untuk saya, Decaff Tall Carmel-nya merk X, adalah minuman wajib saya apabila saya ‘harus’ ke cafe tersebut ,
dan tidak pernah lain. Saya ingat dahulu, harga decaff tall caramel saya pertama kali saya beli adalah Rp. 33.000,00.Tahun berapa yah? 2009?

Sekarang? Wow!

Ternyata kenaikannya lumayan. Terakhir sekitar Rp. 45.000,00, bulan lalu kalau ga salah.Namun saya tidak ingin bercerita panjang lebar tentang ini. Saya hanya ingin bercerita tentang The Latte Factor, yang mungkin kita sadari atau tidak, menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

Sambil menunggu salah seorang teman advisor, pukul 8.42 di cafe A, merupakan waktu teramai yang sangat menarik. Beberapa orang hanya pesan coffee to go, mungkin dengan sarapan lain atau tidak, dan pergi. Berganti dengan pelanggan lain.

Saya bisa katakan, mungkin lebih dari 80% masyarakat kita sangat membutuhkan kopi sebagai ‘semangat dalam cangkir’-nya, untuk melewati hari- harinya secara optimal.

Kembali ke Latte Factor, itu adalah istilah yang dipergunakan oleh financial advisor di Amerika, mengenai kebiasaan banyak sekali orang Amerika yang akan pergi ke coffee shop, membeli coffee seharga u$1-U$3 setiap hari, dari pada membuatnya sendiri di rumah, dan bagaimana efeknya apabila sejumlah uang yang sama, kita investasikan untuk dana pensiun.

Contoh:
Secangkir caffee latte, katakanlah harganya Rp. 35.000,00. Kita bekerja selama 5 hari dari Senin- Jumat. Jadi Rp. 35.000,00 X 5 = Rp. 175.000,00

Asumsi kita ‘hanya’ bekerja selama 4 minggu dalam sebulan,maka dalam sebulan setidaknya kita menghabiskan uang sebesar Rp .175.000,00 X 4 Rp. 700.000,00 untuk secangkir latté.

Bayangkan apabila kita menginvestasikan jumlah yang sama pada suatu instrumen investasi dengan return 25% per tahun. Maka Rp. 700.000,00 kita per bulan selama 20 tahun akan menjadi Rp. 4,8 milyar rupiah.

Wow..besar juga yah..
Tapi seseorang yg seperti apa yang mau menghabiskan uang sebesar Rp. 700.000,00 per
bulan hanya untuk kopi saja? Pasti gajinya juga besar.Kalau begitu mari kita bicara tentang ‘latte effect’ kita yang lebih kecil.

Rokok misalnya. Sebungkus mungkin harganyaRp. 12.000,00 dan bisa habis dalam 3 hari. Kalau dihitung dalam 30 hari, setidaknya kita menghabiskan Rp. 120.000,00 per bulan untuk rokok saja. Rp. 120.000,00 per bulan bisa kita investasikan dalam suatu instrumen investasi selama 20 tahun, dengan interest/bunga 25% dapat menjadi Rp. 823 juta rupiah.

Itu juga kalau..sebungkus habis dalam 3 hari.

Kalau sebungkus per hari? Atau bahkan 2 bungkus sehari?

Apakah latte factor Anda?

Anda mungkin tidak minum kopi, atau tidak merokok..Tapi setiap diri kita sendiri pasti memiliki Latte Factor yang sadar atau tidak, kita secara rutin mengeluarkannya untuk our self pleasurement.

Seorang teman pernah bercerita kalau temen-temannya di kantor setiap habis gajian memilih untuk makan siang di restoran di mall dekat kantor mereka, dan satu minggu terakhir sebelum gajian berikut mengganti mall dengan warteg dekat kantor, atau bahkan rantangan dari rumah.

Bagaimana kalau kita menggantinya dengan membawa makan dari rumah sejak awalkita gajian dan bukan justru di akhir bulan? Membuat kopi sendiri dari pada membeli? Atau sesederhana menabung kecil-kecilan, Rp. 5.000,00 – Rp. 10.000,00 misalnya perhari, setiap hari, dan tanpa sadar di akhir bulan kita masih memiliki Rp. 150.000,00 – Rp. 300.000,00 yang bisa kita belikan secara rutin untuk suatu instrumen investasi, untuk kepentingan jangka panjang kita.

Rp. 150.000,00 per bulan selama 20 tahun dengan suatu instrumen investasi dapat menjadi Rp. 1 milyar lebih. Rp. 300.000,00 per bulan selama 20 tahun dengan instrumen investasi yang sama, dapat menjadi hampir Rp. 2,1 milyar rupiah.

Dulu kami memiliki Office boy di kantor yang dengan kesederhanaannya mampu menabung sebesar Rp. 200.000,00 per bulan dari gajinya yang hanya Rp. 1.200.000,00 per bulan untuk secara rutin membeli suatu instrumen investasi.

Bagaimana dengan Anda?

Apa alasan Anda untuk tidak menabung?

Saya pribadi memiliki latte effect saya sendiri. Saya sangat suka sekali Sushi. Dan setidaknya saya menghabiskan Rp. 150.000,00 per bulan untuk sushi. Dan saya juga seorang movie freak.

Tapi Alhamdulillah saya selalu berusaha menyisihkan dahulu sebagian dari income saya untuk di investasikan. Kalau kita mau meluangkan sedikit waktu untuk berpikir, kemanakah gaji kita ‘pergi’ setiap bulannya? Dan apakah tabungan yang kita miliki cukup untuk mengejar inflasi yang ada, sehingga kita masih bisa memiliki tabungan yang cukup untuk membeli rumah, masa pensiun, jalan-jalan dan lain-lain?

Janganlah kita menghabiskan terlalu banyak uang untuk hal-hal yang bisa kita sebut dengan guilty pleasure, sementara nantinya justru di usia pensiun kita malah tidak bisa menikmati apa-apa.

Plan your future from now.

Start Saving.

Kalau kita bisa menghabiskan sejumlah uang untuk kesenangan sesaat sekarang, mengapa tidak menyisihkannya sedikit juga untuk masa pensiun kita yang nyaman.
Tanyakan pada diri Anda, kalau uang sebesar Rp.150.000,00 per bulan dengan suatu instrumen investasi dapat membuat Anda memiliki uang Rp. 1 milyar rupiah dalam 20 tahun mendatang, berapa milyarkah yang ingin Anda miliki pada saat Anda pensiun nanti?

Sekian artikel dari saya. Untuk berinteraksi langsung dengan penulis, silahkan follow @fioneysofyan atau email ke admin@fioneysofyan.com untuk pertanyaan lebih lanjut.

foto diambil dari sini

 

 

Leave A Response »