Oleh-oleh Dari Indonesia Knowledge Forum tgl 6-7 Oktober 2016 Lalu Tentang Indonesia Outlook

administrator October 14, 2016 0

Pada tgl 6-7 Oktober 2016 lalu, saya berkesempatan untuk bisa menghadiri Indonesia Knowledge Forum yang diadakan oleh BCA Learning Services di Ritz Carlton, Jakarta.

Dan dalam acara yang berlangsung selama 2 hari ini, saya berkesempatan untuk bisa mendengarkan perkembangan tentang Indonesia market outlook dari para pakar, dan juga beberapa cerita inspirasi dari CEO-CEO dan PresDir Muda yang sukses di bidangnya. Overall, it’s a very amazing experience indeed for me.

Acara pertama dibuka oleh Bapak Jahja Setiaatmadja selalu Presiden Director PT. Bank Cendtral Asia, Tbk, dan dilanjutkan dengan keynote speaker Bapak Thomas Trikesih Lembong.

Dalam acara pertama ini, saya sudah terpana dengan pernyataan awal yang diungkapkan sebagai berikut: ”Creativity without knowledge seperti makan sup tanpa garam dan mecin.” Kombinasi antara knowledge dan creativity erat sekali hubungannya. Misal kita memiliki pengetahuan atau knowledge, tapi hanya bagus untuk diri sendiri, buat apa? Sementara sebaliknya creativity sendiri tanpa knowledge, juga nggak akan berkembang,

Thomas Lembong dalam conferencenya berkata,”Sudah waktunya kita sebagai negara untuk naik kelas. Atau Taking our country to the next level. Dan kalau kita ingin naik kelas, maka yang pertama kali harus kita ubah adalah Mindset mental kita, karena attitude is everything.

Satu hal yang sangat menarik yang Pak Thomas ungkapkan adalah,”Kita harus menginginkan kegagalan, kita harus menginginkan kesalahan dan tentunya dengan niat baik. Karena dengan welcoming kesalahan, kita akan tahu dan menerima apa kesalahan kita dan hanya dari kesalahanlah kita akan belajar.”

“Tujuan utama kita adalah hasil, bukan proses. Konsekwensi praktir = panik tidak akan ada gunanya. Dan sesuatu yang seharusnya kita tanyakan bukanlah ‘Bagaimana kalau gagal?’ karena sebenarnya adalah lebih parah lagi kalau kita tidak mencoba.”

Dari semua sektor ekonomi Indonesia, ternyata sektor yang perkembangannya paling cepat dan paling besar adalah sektor jasa, yaitu 8-9% setahun. Jadi pekerjaan yang menyangkut jasa seperti jasa konstruksi, asuransi dan keuangan adalah area yang menciptkan pekerjaan atau lapangan kerja yang upahnya paling tinggi.

Hmm.. this is interesting.

Dan selebihnya Bapak Thomas juga mengungkapkan bahwa senjata rahasia kita, adalah budaya kita. “Mungkin negara kita kalah dari negara lain tetapi kita memiliki budaya yang sangat menyenangkan dan rendah hati, persahabatan dan welcoming, yang akan merebut hati negara lain.”

“Kerendahan hati membuat jauh lebih mudah bagi kita untuk berbicara jujur.”

Duh keren bangat ya si Bapak ini.

Di sesi berikutnya, saya berkesempatan untuk mendengarkan Bapak A. Tony Prasetiantono selaku Komisaris Independen PT. Bank Permata, Tbk. dengan topik “Knowledge and Creativity Ipact in Indonesia Economy.”

Yang paling menarik yang beliau ungkapkan adalah mengenai ciri-ciri ekonomi lesu, yaitu:

  1. Masyarakat lebih suka menabung daripada belanja
  2. Liquiditas melimpah di bank
  3. Loan to deposit ratio meningkat tanpa ada kemampuan bayar
  4. pertumbuhan ekonomi minus selama 3 quarter berturut-turut
  5. Orang lebih suka menyimpan uangnya di bak daripada belanja.

Lebih lanjut Pak Tony juga menceritakan tentang fenomena Flying Geese, dimana layaknya Geese atau angsa, nggak akan bisa ia berdiam di satu tempat terlalu lama. Begitu juga dengan fenomena ekonomi. Ga selamanya Jepang akan jagowan di garmen, pasti ada perpindahan ke negara lain yang piawai ke sana.

Untuk saya yang bukan pakar ekonomi, asli jadi belajar banyak dan memahami lebih lanjut tentang Indonesia Market outlook seperti apa dan bagaimana projeksi ke depannya ekonomi kita.

Btw, untuk materinya bisa di download di sini ya http://www.bcalearningservice.com/

Daann yang paling menarik bagi saya adalah Posisi Tax Amnesty per 3 Oktober 2016

  • Deklarasi dan Repatriasi Rp. 3.629 trilyun (59%)
  • Deklarasi dalam negeri Rp. 2.539 trilyun
  • Deklarasi Luar Negeri Rp. 952 trilyun
  • Repatriasi Rp. 137 trilyun (13,7%)
  • Dan tebusan Rp. 97.2 trilyun

Ternyatah orang Indonesia kayah kayah ya sodarah sodaraaah… #lapkeringet

Di Sesi berikutnya, saya juga sempat mendengarkan Bapak Fadjar Hutomo dan Bapak Yohanes Surya. Willian Tanuwijaya, pendiri dan CEO Tokopedia, Gunawan Susanto sebagai Presiden Director termuda IBM, dan Bunda Anne Avantie.

Sebagai acara penutup, saya juga berkesempatan untuk mendengarkan Bapak Arief Yahya yang memberikan Inpiring Talk Shownya yang luar biasa tentang Indonesia.

Overall, benar-benar pengalaman belajar yang sangat menarik untuk saya.

Ada benang merah yang saya tarik dari semua pembicara hebat ini. “Jangan pernah takut untuk berbuat kesalahan. Karena hanya dari kesalahanlah kita akan belajar sesuatu. Jangan pernah takut gagal, lebih takutlah kalau kita tidak pernah mencoba.”

Dan yang paling menyentuh saya adalah bagaimana Thomas Lembong, Anne Avantie, William Tanuwijaya dan Gunawan Susanto dalam waktu yang terpisah, secara implisit bersama-sama menyatakan, bahwa berbisnislah dengan hati, dan menerapkan dengan baik budaya kita yaitu kerendah hatian. Kita juga harus terus mau belajar, dan jangan pernah putus asa.

Indonesia culture lies in the people whom are always offering their hospitality and humility through their act in relationship towards other people, foreigners. And that is what makes Indonesian people are great among any other nations.

 

Leave A Response »