Prison Break

administrator March 25, 2015 8

Dalam sebuah percakapan random dengan salah satu klien saya, tiba-tiba beliau bertanya pada saya,”Onie pernah nonton Prison Break?”

“Prison Break yang serial film, pemainnya Wentworth Miller dan Dominic Purcell, Pak? Tahu Pak,” jawab saya seingatnya.

“Iya. Intinya itu, saya merasa pekerjaan saya seperti penjara, dan saya ingin keluar dari penjara pekerjaan…” cerita beliau lagi. Ada banyak sebenarnya cerita dari beliau. Bukan ia tidak menyukai pekerjaannya, bukan. Namun kenyataan bahwa si Bapak ini adalah pekerja off-shore, itu yang mengganggunya. Memang gajinya lebih dari cukup dan banyak fasilitas yang menyenangkan. Namun kenyataan bahwa ia harus meninggalkan anak dan istrinya sampai berbulan-bulan, dan hanya bisa bertemu untuk waktu yang singkat, kemudian harus bekerja lagi entah berapa bulan, itu yang membuatnya terasa berat.

Alhamdulillah si Bapak memiliki istri yang kuat, sehingga support dan dukungan serta cinta mereka tetap bisa bertahan sampai sekian lama. Bahkan saya suka tersenyum sendiri melihat cara sang istri mengungkapkan cintanya di facebook dengan posting foto kue anniversary, dan pesan-pesan manis yang.. aahh.. gitu deh 🙂

The point is.. sadar atau tidak, kita sering terjebak dalam rutinitas kita. Atau penjara yang kita buat sendiri. Kalau kita tidak bekerja, ga ada income yang memadai untuk membiayai keluarga kita sendiri. Kita bekerja berangkat pagi, pulang sudah sangat malam, dan seringkali kita malah lupa bahkan ga tahu apa kegiatan anak-anak kita sendiri. Apa yang terjadi sama mereka? PR-nya bagaimana? Did I miss something?

Yes, you miss a lot.

Suatu hari saya membelikan Aurora baju tidur Frozen. Katanya siiihh, dia ga suka Frozen. Tapi tetap saja waktu saya kasih dia jingkrak-jingkrak seneng liat baju tidur lengan panjang dan lengan pendek, bergambar Anna dan Elsa, dan satu lagi ada Olaf-nya. Katanya dia bukan Princess, tapi siapa sih yang bisa say No to Frozen?

Tapi yang bikin saya kaget, waktu dia memakai celana panjang tidurnya, kakinya pas, malah agak sedikit ngatung. Mungkin cuma 2-3 cm tapi ga terlalu kelihatan. Saya kaget. Kaget banget. Karena artinya saya salah membeli ukuran baju. Saya beli pakaian untuk usia 7-8 tahun dan 9-10 tahun. Karena saya pikir Aurora kan badannya kecil, jadi kalau pakai pakaian yang sesuai umurnya pasti kegedean.

I was wrong! She grew up! Saya sedih dan kecewa, kok saya bisa salah? What did I miss here?
“Kamu umur berapa sih, De?” tanya saya dengan bodohnya pada si kecil.

“Aku udah 8 tahun, Mama. Aku udah bukan anak kecil lagi,” katanya dengan mata kelap-kelipnya.

Hah? Saya tahu kok kapan Aurora lahir. Ga usah nanya juga saya tahu. Tapi somehow ada time space yang hilang di otak saya entah di bagian mana, sehingga saya selalu mikir Aurora itu umurnya 6 tahun atau berbadan seperti anak usia 6 tahun. Padahal jelas udah kelas 2 SD, sekarang mau naik kelas 3 SD. Tapi kok saya masih salah milih baju tidur buat si baby princess of mine?

What did I miss here?

Sadar atau ga, rutinitas membuat kita semakin menjadi robot, ter-otomatisasi dengan kegiatan yang itu-itu saja. Dan selama bertahun-tahun kita harus melakukan itu, kadang disertai dengan perubahan besar pindah kerja, lingkungan baru, adaptasi, naik pangkat, hectic problem kantor, dll. It’s too much. Banyak.. banyak banget menyita waktu dan pikiran kita. Sehingga kadang kita lupa sama orang yang paling kita cintai. Mending kalau cuma lupa, ini malah jadi pemarah dan pasangan kerap jadi collateral damage, alias pelampiasan stress.

Apa sih sebenarnya yang kita cari dalam hidup? Kalau kita benar-benar bekerja keras untuk si buah hati, berapa banyak waktu yang kita sempatkan untuk bermain atau sekedar berbicara sama mereka?

My favorite time of a day itu malam, kalau Aurora sudah tidur. Karena itu kesempatan saya untuk bisa bicara sama Aan, ask him about his day, his homework, his game, etc. Karena Farhan tahu, kalau sore sampai malam, pasti Aurora sudah nempel terus sama Mamanya dan Farhan pasti memilih untuk mengerjakan PR-nya atau yang lain-lain, not to be disturb.

Biasanya saya ngobrol sedikit 15-30 menit. Bahkan kalo weekend bisa sampai lewat tengah malam. But I can’t do that kalau saya lagi ada pekerjaan yang mengharuskan saya ke daerah Jakarta. Pusat atau Selatan. Padahal rumah saya juga ga jauh-jauh amat kok. Cuma matchetnyah itu.. time wasting banget.

Kalau dalam sehari saja saya bisa kelewat, dan hari lain dan hari lain, entah apa lagi yang sebenarnya saya lewatkan tentang anak-anak saya.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memulai berinvestasi. Baik di property, reksadana, pasar modal maupun logam mulia, terserah. Baiknya semua malah, sebagai bagian dari diversifikasi. Ga akan pernah ada salahnya kalau kita berinvestasi, sesedikit apapun, sebanyak apapun, akan lebih rugi lagi kalau kita ga bisa meluangkan waktu buat anak-anak dan orang tersayang.

Mau berapa lama lagi kita bekerja? Kapan kita mau pensiun? Pensiun juga enaknya yang nyaman kan? Bisa keliling dunia, jalan-jalan, mengerjakan hobby, atau menjadikan hobby sebagai income, kenapa tidak?

Dan yang namanya investasi ga harus mahal kok. Bisa dimulai dari 250 ribu untuk reksadana. Mau punya properti? Bisa. Asal mau, bukan cuma ingin. Beda loh. Kalau memang mau, ya do something! Kalau ingin, ya ga akan pernah terjadi.

Kita ga akan pernah tahu siapa atau apa yang bisa kita selamatkan dengan mulai berinvestasi dari sekarang. At lease di masa nanti saya bisa menengok ke belakang dan berkata,”I’m glad I did that.” Dan saya tahu masa masa pensiun saya nanti bagaimana dan apa yang bisa saya kerjakan. Tentunya, bersama Farhan dan Aurora, atau sama teman-teman saya dan orang tersayang atau apapun itu, saya punya freedom dalam finansial untuk melakukan apapun yang saya mau, karena investasi yang saya lakukan sekarang.

What about you?

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

8 Comments »

  1. lies March 26, 2015 at 11:54 AM - Reply

    Mba,
    lg terjebak dengan 6 hari kerja dan seragam yang kurang oke cutting nya nih..
    seperti biasa tulisan nya sangat mengesankan..

    • administrator March 26, 2015 at 12:47 PM - Reply

      Duh Mba Lies, jaga kesehatannya ya Mba. Semoga semua dilancarkan untuk Mba.
      Terima kasih selalu atas supportnya.
      Semoga bermanfaat.

  2. enny April 13, 2015 at 2:27 PM - Reply

    mba…
    gmana menurut mba tentang invest perhiasan emas? buat disimpan saja tidak dipakai, dengan memilih model simpel2 gitu,

    • administrator April 13, 2015 at 3:28 PM - Reply

      Dear Mba Enny, di menit pertama Mba keluar dari toko emas, harga perhiasan yang Mba beli sudah tereduksi atau berkurang 30%-60%. Emas perhiasan tidak masuk dalam kategori investasi di logam mulia. Investasi di logam mulia itu logam mulia batangan. Memang sih sebagai wanita siapa sih yang ga suka perhiasan emas. Tapi perhiasan emas bukan investasi. Itu koleksi. Bukan berarti ga ada harganya ya Mba. Cuma ya jangan nangis ketika butuh harganya malah berkurang 60% dan sepuluh tahun lagi ketika dijual harganya malah turun. Investasinya dimana?

      Mungkin untuk detailnya Mba bisa baca ini. http://fioneysofyan.com/benarkah-logam-mulia-memberikan-return-20-per-tahun/ atau ini http://fioneysofyan.com/investasi-di-logam-mulia-yuk/

      Semoga bermanfaat.

  3. enny April 14, 2015 at 9:21 PM - Reply

    Terima kasih linknya mba fioney, sy cari2 d web ini tentang emas blm ketemu, akhirnya tercerahkan

    • administrator April 14, 2015 at 11:32 PM - Reply

      Sama sama Mba Enny, semoga bermanfaat ya.
      Ga heran sih mba, saya pribadi saja kan sudah menulis hampir 200 artikel.
      Mungkin bisa masukkan keyword tertentu di search-nya. Walau artikel lama pasti ada kok 🙂

  4. farida July 6, 2015 at 11:58 AM - Reply

    Keren banget, mba, artikel2nya. baru ngerasa bodoh banget waktu tau perhiasan emas bukan investasi. Sudah seneng dengan punya beberapa perhiasan emas. Begitu dijual, eehh…
    Investasinya dimana? Makasih banyak ya..

    • administrator July 6, 2015 at 12:56 PM - Reply

      Dear Mba Farida,
      Terima kasih ya atas commentnya. Semoga bermanfaat 🙂

Leave A Response »