Psychology Investing 101: Understanding ‘Why?’

administrator September 2, 2015 4

Biasanya sebulan sekali saya suka ngumpul nimbrung sama temen temen pelari yang saya jeblosin untuk berinvestasi di pasar modal. Iyah, saya jeblosin!! Hahahaha.. Gak sih, mereka yang memiliki keinginan pribadi, saya hanya ngikut.

Dalam satu percakapan dengan seorang teman, dia bilang begini,”Kok saham ABCD turun ya? Kemarin gue baru beli, eh terus turun gila-gilaan. Mau cut loss gue bingung. Kenapa sih On? Sahamnya begitu?”

Kalau ada yang bertanya seperti itu ke saya, saya pasti tanya balik,”Kenapa awalnya beli saham itu?
Dan saya paling bingung kalau ada yang jawab,”Ga tahu.” Atau “Kemarin dapat rekomendasi dari si AA, katanya begini begina beginu..”

Dalam hati saya wondering,”Kalau ga tahu, kenapa dari awal beli saham itu?”

Tak kenal maka tak sayang, mungkin ini ungkapan yang bisa dibilang tepat. Atau, kalau ga tahu, ga paham, kenapa di beli dari awal?

Akhirnya waktu itu saya menjelaskan ke teman saya soal efek El Nino ke plantation alias perkebunan. Dan ulasan panjang lebar tentang perusahaan tersebut layaknya orang ahli. Padahal, bukan karena saya ahli. Saya hanya baca dan paham efeknya.

Dulu, awalnya saya berinvestasi di pasar modal, saya di wanti wanti sama Mas Fath, AVP-nya Mansek,”Kalau sebagai pemula, berinvestasilah ke saham yang produknya kita tahu atau setidaknya kita kenal.”

Ga lama, ternyata saya juga membaca quote keren dari seorang Peter Lynch yang berkata,”The worst thing you can do is invest in companies you know nothing about. Unfortunately, buying stocks on ignorance is still a popular American pastime.”

Kenapa juga kita memilih saham yang kita ga paham? Saya ga paham batu bara, plantation atau sawit, dll. Jadi jelas saham-saham pertambangan dan plantation akan saya hindari. Tapi saya paham Zara, Mango, Mark & Spencer, Krispy Creme, Starbuck, Uniqlo, Ace Hard Ware, Perumahan BSD City, Alam Sutera, Bank-bank yang katanya cape antri, Matahari Dept. Store, Ramayana, Blue Band, Dove, Head & Shoulders, Walls, Bimoli, Semen Gresik, dan walau saya ga suka makan Indomie, tapi selama masih ada warung Indomie di setiap 500 meter jalan, saya yakin Indomie akan terus perkasa!

Logika sederhana untuk semen: biar bagaimana yang namanya pembangunan gedung atau rumah ga akan pakai putih telur dan nasi kan buat perekatnya? Atau yang mau keren dikit? Perhatikan company-company yang bikin macet jalanan di sekitar kita. Sebut saja PTPP, Adhi Karya, Waskita, dll. Daripada mengumpat karena macet, yuk kita beli sahamnya. Secara psikologis otak kita akan lebih baik, karena akan ada rasa lega dan bangga, sehingga kita bisa nunjuk,”Tuh perusahaan gue lagi kerja bangun Jakarta!” Artinya apa? Profit baik perusahaan tersebut akan dibagi ke kita juga dalam bentuk deviden dan capital gain.

Capital gain: kenaikan harga sahamnya karena profit baik dan pembukuan baik.
Deviden: profit bersih yang dibagi-bagi perusahaan ke kita sebagai pemilik saham

Saya pernah punya saham perusahaan CPIN. CPIN itu perusahaan penjagalan ayam. Nilai dalam rupiahnya cuma sekitar 2 jutaan. Tapi deviden yang saya terima itu sekitar Rp. 18.900,- Entah kenapa saya seneeeeng banget kala itu. Berasa owner yang bangga sama kinerja perusahaannya. (Gaya banget ga sih)

Itu baru 2 juta. Bagaimana kalau 20 juta atau 200 juta? Apakah tabungan kita bisa memberikan hasil baik seperti itu? Atau deposito deh? Perlu diingat ada biaya administrasi juga loh yang menggerus tabungan juga, belum lagi inflasi yang menurunkan nilai rupiah kita akan daya beli. Sementara kalau kita menabung di saham.. Beberapa saham BUMN mampu memiliki kenaikan cantik sebesar 38-200% per tahun di tahun 2014 saja.

Bahkan pada saat yang katanya IHSG rontok gila-gilaan ini, saya amaze sendiri melihat recovery yang cepat beberapa saham pilihan. Bahkan dengan yang katanya perlambatan ekonomi, banyak laba bersih perusahaan yang berhasil dikeruk baik melebihi 37% yoy. Imbasnya kemana? Capital gain dan deviden yang dibagi juga meningkat.

Hal pertama yang bisa kita lakukan dalam memilih saham unggulan, mengertilah kenapa kita memilih saham tersebut. Dan ga perlu pinter pinter amat kok analisanya untuk memilih saham itu juga. Cara sederhana apapun yang asalkan masuk ke logika kita, why not?

Peter Lynch juga bilang, kalau kita bisa menjelaskan tentang sebuah perusahaan ke anak kelas 5 SD tanpa dia merasa bosan, artinya saham itu baik.

Saya sendiri pernah mengalami analisa sederhana Farhan yang waktu itu masih kelas 5 SD milih saham Ultra Jaya. Saya, dengan tehnikal analis ala-ala saya, bilang ke dia, ini sahamnya ga bagus, soalnya grafiknya jelek. Tapi Farhan tetap memilih saham tersebut, dengan alasan,”Aan suka susunya.” Dan rupanya Farhan masih bisa membayangkan 10 tahun lagi kalau makan lasagna Mamanya, atau french toast atau apa, bahan dasarnya pasti (dan harus) susu Ultra Jaya.

Apa yang terjadi? 18 bulan kemudian Farhan menikmati profit cantik 182% dari harga saham Ultra Jaya yang dia beli. Bahkan dalam kondisi IHSG merah dan jatuh seperti sekarang sekalipun, dia masih ada profit 100 % lebih. Apakah kita lebih pinter dari anak kelas 5 SD? Apakah Mamanya Farhan pernah profit 182% dari saham dengan trading dalam waktu 18 bulan? Jawabannya: engga.

Jadi kenali, pahami, kenapa kita mau beli saham ini itu. Ga perlu penjelasan yang extravagan juga. Belajar fundamental analis memang lebih baik. Tapi kalau ga mengerti tambang, atau perkebunan sawit, kenapa beli sahamnya karena rekomendasi?

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan atau bisa mengirimkan email ke admin@fioneysofyan.com

4 Comments »

  1. lies September 2, 2015 at 9:56 AM - Reply

    Mba..
    Paling suka deh sama gaya bahasa nya..
    makasih yah..

    • administrator September 3, 2015 at 8:57 AM - Reply

      Terima kasih Mba, semoga bermanfaat 🙂
      Teuteeepp Ultra Jaya aku sebut ya Mba. Hahahahaha

  2. hendri September 2, 2015 at 9:20 PM - Reply

    widih mantep ini tan, hehehe, sama tan kita ya, saya juga ga tertarik beli saham tambang karena ga ngerti sama tambang2an, cuma tau aja kalo harga minyak sama komoditas lagi turun, ga ngerti apa2 lagi, makanya macam ITMG ga saya liat, mungkin kalo harga minyak naik bakalan naik tuh, cuma karena saya ga ngerti bener2 ga tertarik tan, mau analisanya aja ga ada nafsu rasanya wkwk

    • administrator September 3, 2015 at 8:56 AM - Reply

      Sebenernya apa yang kita ga tertarik bisa dijadikan ‘pertanda” atau pilihan watch list saham-saham Hen.
      Jadi ya ikutin aja yang nyaman dan ga nyamannya 🙂

Leave A Response »