Tips And Trick Agar KPR Kita Disetujui

administrator March 22, 2013 0

Awal tahun 2013, ternyata menjadi tahun yang sangat menarik bagi teman-teman saya dan beberapa klien untuk memiliki property baru atau merenovasi yang lama. Great choice! Karena pilihan investasi property selalu menjadi topik menarik untuk dibahas.

Jadi menyambung artikel saya sebelumnya mengenai Bagaimana memilih property yang pas untuk kita , maka kali ini saya akan membahas hal-hal yang perlu kita ketahui tentang KPR dan apa-apa saja yang sebaiknya kita hindari agar KPR kita disetujui.

Tapi sebelumnya, berapa sih plafon KPR kita?

Dari gaji yang kita terima dengan pengeluaran yang kita tahu berapa, kita memberanikan diri untuk mengambil KPR. Semua dokumen dan persyaratan kita penuhi, berkas ini-itu semua beres, dan ternyataaa… KPR kita ditolak.

Why?

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kenapa KPR kita tidak disetujui. Kebanyakan Bank tidak akan mau repot menjelaskannya pada Anda, sehingga Anda-pun merasa tidak bisa memperbaiki dan hanya dibiarkan marah atau kecewa saja sendirian tanpa penjelasan.

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin saja menjadi penyebab kenapa KPR kita ditolak:

1. Kredit Anda tidak mencukupi.

Maksudnya adalah: Bank hanya akan menyetujui 30%-40% biaya cicilan dari gaji kita. Contoh, bila gaji kita Rp. 10 juta rupiah, maka Bank akan melihat bahwasanya kemampuan membayar kita hanya sebesar Rp. 4 juta rupiah, maksimum. Dan ini juga semua sudah termasuk seluruh cicilan kepada pihak ketiga yang terdaftar di Bank, contoh: cicilan motor, mobil, dll yang apabila diakumulasikan, tidak melebihi 40% dari gaji. Kalau lebih, pasti tidak disetujui, meskipun kita merasa mampu membayar sampai Rp. 5-6 juta sekalipun, Bank memiliki protokol, hitungan, rumus atau aturannya sendiri mengenai hal ini.

2. Hutang Kartu Kredit dan Kredit Macet

Kalau kita pernah menunggak pembayaran cicilan kartu kredit, sebulan saja sekalipun, maka Bank akan langsung memberikan ‘mosi tidak percaya’ pada kita, sehingga pengajuan KPR kita pasti tidak disetujui. Namun hal ini bisa disiasati dengan ‘membersihkan’ daftar pembayaran kartu kredit kita selama 6 bulan ke belakang. Jadi selama 6 bulan, kita selalu on time dalam membayar tagihan. Karena sistem bank akan me-link kita pada SID atau daftar hitam Bank Indonesia. Jadi apabila nama kita sudah masuk dalam SID Bank Indonesia, bisa dipastikan seluruh permohonan KPR kita pasti ditolak, karena kita dianggap memiliki potensi kredit macet.

3. Fluktuasi income dalam tabungan yang tinggi

Bank akan meminta kita memberikan copy tabungan atau rekening kita selama 3-6 bulan terakhir. Bank akan melihat apakah income yang masuk ke rekening kita di tanggal tertentu adalah continue sehingga bisa di cross cek ulang bahwasanya apa yang kita laporkan adalah benar dan sesuai, seperti apa kata si buku tabungan. Namun kalau malah ternyata terjadi fluktuasi atau aktivitas rekening yang terlalu tinggi dengan tingkat keluar masuknya yang juga naik turun drastis, maka kemungkinan Bank akan menolak permohonan KPR Anda, karena tabungan dianggap tidak konsisten dengan pengeluaran, bahkan malah habis. Jadi di sini tetap kita dianggap memiliki potensi kredit macet.

Kalau untuk income, bank hanya untuk memverifikasi apakah kita bisa dipercaya. Cost-nya sendiri sudah akan dihitung oleh Bank, oleh sebab itulah bank hanya akan menyetujui pinjaman dengan kemampuan kita mencicil sebesar 30-40%

Jadi apa yang bisa kita lakukan kalau KPR kita ternyata ditolak?

Kita masih bisa mengajukan ‘Banding’ atau permohonan kembali, tentunya dengan lebih melengkapi data atau berkas. Salah satu data yang bisa kita pakai untuk membantu kelancaran pengajuan KPR adalah dengan copy SPT-21, atau laporan setoran pajak kita. Untuk detailnya, bisa ditanyakan pada financial planner Anda.

Atau kita bisa mengajukannya di Bank lain.

Sebenarnya yang paling penting di sini adalah valuasi atau nilai harga rumah yang sebenarnya. Apabila kita membeli rumah di perumahan, maka Bank pada umumnya akan segera menerima karena sudah ada price list dari developer yang menjadi acuan atau patokan dari bank dalam menilai suatu rumah.

Kalau rumah tersebut bukan di real estate atau merupaka rumah yang dibangun sendiri, maka bank akan melakukan sendiri perhitungan nilainya melalui apraisal. Kalau kita mengajukan pinjaman sebesar Rp. 500 juta misalnya, namun ternyata apraisal dari bank tidak sebesar itu maka secara otomatis pengajuan kita akan ditolak bisa nilai pengajuan kita adalah sebesar Rp. 500 juta tersebut. Namun Bank tentunya akan menyetujui bila nilai pinjaman lebih kecil daripada harga aslinya.

Perhatikan juga legal proses atau surat-suratnya. Developer mungkin haya bisa megeluarkan surat berupa PPJB, sementara Bank hanya bisa menerima rumah dengan dokumen legal SHM atau yang jelas. Perhatikan juga apakah rumah yang akan kita beli adalah rumah warisan, sehingga semua ahli waris juga harus tanda tangan. Clear-kan permasalahan ini, agar kita tidak terkendala di masa mendatang.

Biasanya developer sudah bekerjasama dengan bank tertentu sehingga proses pengajuan kreditnya bisa dipermudah. Jadi jangan khawatir, mari kita mulai berinvestasi di property.

Sekian artikel dari saya. Bila ada pertanyaan atau ingin berkonsultasi langsung dengan penulis, anda dapat mention penulis via twitter di @fioneysofyan dan @bedahDuit atau bisa mengirimkan email ke admin@wpkami.com/fioneysofyan.com

Leave A Response »